INDUSTRY.co.id - Jakarta - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi katalis kuat bagi pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Segmen battery electric vehicle (BEV) kini menjelma sebagai motor baru industri otomotif nasional, dengan tren penjualan yang diproyeksikan terus melonjak hingga 2026.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pergeseran signifikan struktur pasar otomotif dalam beberapa tahun terakhir. Kontribusi mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) merosot tajam dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen di 2025, dan kembali turun ke 75 persen per Maret 2026.
Sebaliknya, pangsa pasar BEV melesat dari hanya 0,1 persen pada 2021 menjadi 12,9 persen di 2025, lalu meningkat ke 15,6 persen pada kuartal I-2026. Hingga akhir tahun ini, pangsa BEV diprediksi menembus 19–20 persen.
Secara penjualan, BEV mencatat lonjakan hampir dua kali lipat. Hingga Maret 2026, penjualan mencapai 33.146 unit, naik 96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan industri otomotif secara keseluruhan yang hanya 1,7 persen. Sebaliknya, penjualan mobil ICE justru turun dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Setia Diarta menegaskan, pemerintah terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB).
“Transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri,” ujar Setia Diarta dalam diskusi yang bertajuk “Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle” yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu (22/4).
Saat ini, industri EV nasional menunjukkan perkembangan pesat. Tercatat ada 14 perusahaan perakitan mobil listrik dengan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun. Selain itu, terdapat 68 produsen sepeda motor listrik dengan kapasitas 2,51 juta unit per tahun, serta sembilan produsen bus listrik dengan kapasitas 4.100 unit per tahun. Total investasi sektor ini telah mencapai Rp25,67 triliun.
Dari sisi populasi, jumlah kendaraan listrik di Indonesia hingga Maret 2026 mencapai 358.205 unit. Angka ini didominasi sepeda motor listrik sebanyak 236.451 unit dan mobil penumpang listrik sebanyak 119.638 unit. Pertumbuhan kendaraan listrik bahkan mencatat compound annual growth rate (CAGR) di atas 140 persen dalam lima tahun terakhir.
Menurut Setia, perubahan preferensi konsumen menjadi faktor utama di balik lonjakan ini. Masyarakat kini semakin mempertimbangkan efisiensi energi dan aspek ramah lingkungan dalam memilih kendaraan.
“Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional,” kata dia.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menilai industri otomotif Indonesia tengah mengalami transformasi besar menuju era multi-powertrain. Dominasi kendaraan berbasis ICE mulai terkikis seiring meningkatnya adopsi kendaraan elektrifikasi.
“Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah BEV akan terus tumbuh, tetapi apakah kendaraan konvensional akan ikut terelektrifikasi,” ujarnya.
Dari sisi industri, BYD Indonesia menjadi salah satu pemain yang agresif di pasar domestik. Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, menyebut penjualan BYD meningkat 65 persen per Maret 2026 dengan pangsa pasar mencapai 41 persen, tertinggi di Indonesia.
“Visi kami selaras dengan Indonesia, yaitu mengurangi emisi karbon. Kami membangun ekosistem, dari produk hingga jaringan dan pabrik,” kata Luther.
Saat ini, BYD telah memiliki 84 dealer yang tersebar di 48 kota di Indonesia.
Sementara itu, CEO Degree Synergy International, Andrea Suhendra, menilai pertumbuhan EV didorong oleh beberapa faktor kunci, mulai dari bertambahnya model hingga harga yang semakin kompetitif.
Jumlah model BEV di Indonesia kini mencapai 74 unit, naik drastis dari hanya 11 model pada 2021. Selain itu, harga BEV juga semakin terjangkau, bahkan sudah berada di kisaran Rp300 jutaan, mendekati harga mobil konvensional.
“Selisih harga makin tipis, sementara total cost of ownership kendaraan listrik jauh lebih rendah,” ujar Andrea.
Ia menambahkan, kenaikan harga BBM, terutama solar, juga membuat konsumen beralih ke kendaraan listrik yang lebih hemat biaya operasional.
Meski demikian, Andrea mengingatkan bahwa kebijakan pajak daerah dapat memicu gejolak sementara di pasar. Namun, dalam jangka panjang, minat terhadap EV diyakini tetap tinggi.
Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif tambahan untuk plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) sebagai teknologi transisi.
“PHEV bisa menjadi jembatan bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya ke BEV, terutama terkait infrastruktur pengisian daya,” tutupnya.