INDUSTRY.co.idJakarta – Transformasi industri otomotif global menuju era elektrifikasi menghadirkan tantangan besar bagi Indonesia. Peneliti senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan (NCSTT) Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi mengungkapkan bahwa perkembangan kendaraan listrik saat ini masih didominasi oleh negara-negara besar seperti, China, Eropa, dan Amerika Serikat (AS).

Menurut Agus, China menjadi pemain paling dominan, khususnya dalam pengembangan Battery Electric Vehicle (BEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Sementara itu, Indonesia justru masih bergantung pada produk impor dalam ekosistem elektrifikasi.

“Lebih dari 60 persen produk elektrifikasi di Indonesia saat ini masih didominasi oleh China,” kata Agus di Jakarta (14/4).

Kondisi ini berbeda dengan beberapa negara di kawasan Asia Pasifik. Thailand misalnya, juga didominasi oleh produk China, namun mulai menghadapi tantangan serius. Industri otomotif di negara Gajah Putih tersebut disebut mengalami perlambatan, bahkan sejumlah pabrik dilaporkan tutup sehingga pertumbuhan sektor ini mulai menipis.

Di sisi lain, India dan Vietnam justru muncul sebagai contoh sukses dalam pengembangan industri kendaraan listrik berbasis produksi lokal. Kedua negara ini dinilai mampu membangun fondasi industri domestik yang kuat melalui kebijakan yang terarah dan implementasi yang konsisten.

“India dan Vietnam berhasil karena mereka fokus pada penguatan produksi lokal. Kebijakan yang dibuat tidak hanya jelas, tetapi juga terukur dalam pelaksanaannya,” terangnya.

Malaysia juga dinilai sedikit lebih unggul dibanding Indonesia dalam hal porsi elektrifikasi kendaraan. Namun, struktur industrinya masih memiliki kesamaan, yakni ketergantungan yang cukup tinggi terhadap produk dari China.

Lebih lanjut, Agus menyoroti keberhasilan India yang mendorong percepatan elektrifikasi melalui kebijakan fiskal. Pemerintah India memberikan insentif pajak yang signifikan untuk kendaraan listrik, sehingga mampu menarik investasi sekaligus mempercepat adopsi di dalam negeri.

“India itu sukses karena mendorong insentif berbasis pajak untuk elektrifkasi. Ini yang membuat industrinya berkembang cepat,” ungkap Agus.

Melihat kondisi tersebut, Indonesia dinilai perlu segera mengevaluasi strategi pengembangan industri kendaraan listrik. Tanpa kebijakan yang tepat dan implementasi yang kuat, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk luar, bahkan sebagai pemain utama dalam rantai industri global.

"Dengan potensi pasar yang besar dan sumber daya yang melimpah, peluang Indonesia sebenarnya masih terbuka lebar. Namun, langkah konkret dan terukur menjadi kunci agar tidak tertinggal dalam persaingan industri otomotif masa depan," tutup Agus.