INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Perindustrian terus mendorong pelaku industri nasional, termasuk sektor industri kecil dan menengah (IKM), untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan industri di tengah dinamika global. Upaya ini dilakukan melalui berbagai langkah strategis oleh unit kerja Kemenperin, seperti penguatan layanan teknis, pendampingan implementasi teknologi tepat guna, serta fasilitasi standardisasi dan peningkatan kapasitas produksi di berbagai daerah.

Salah satu contoh konkret adalah penerapan teknologi tungku Beehive oleh Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Manado kepada pelaku IKM arang tempurung kelapa di Desa Rumengkor, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri nasional di tengah berbagai tantangan global.

“Di tengah dinamika yang memnbutuhkan kecepatan produksi, industri dalam negeri perlu meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal. Penggunaan teknologi seperti tungku Beehive ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (14/4).

Ia juga menambahkan bahwa transformasi teknologi di sektor IKM merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat struktur industri nasional sekaligus mendorong hilirisasi komoditas berbasis sumber daya alam dalam negeri.

“Pemanfaatan teknologi yang tepat akan mendorong peningkatan kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing industri nasional, termasuk industri berbasis komoditas kelapa yang memiliki potensi besar di pasar global,” tambahnya.

Teknologi tungku Beehive yang diterapkan oleh BSPJI Manado merupakan metode karbonisasi modern dengan proses pembakaran yang lebih stabil dan efisien. Dengan kapasitas bahan baku sekitar 4 ton tempurung kelapa per batch, teknologi ini mampu menghasilkan rendemen sebesar 28–30 persen dengan kadar air rendah sekitar 5 persen. Tingkat efisiensi ini jauh lebih baik dibandingkan metode konvensional yang cenderung boros energi dan menghasilkan kualitas produk yang tidak seragam.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menjelaskan bahwa transformasi layanan jasa industri kini tidak hanya berfokus pada pemenuhan standar, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan keberlanjutan industri.

“Transformasi layanan ini menjadi strategi untuk membangun ekosistem industri yang lebih terstandar, efisien dalam penggunaan energi, berdaya saing, dan berorientasi ekspor,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BSPJI Manado Soni Pitriajaya menyampaikan bahwa implementasi tungku Beehive merupakan langkah nyata dalam mempercepat hilirisasi komoditas kelapa di tingkat IKM sekaligus menjawab tantangan efisiensi produksi.

“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi standar baru bagi IKM arang tempurung kelapa. Dengan proses yang lebih efisien, pelaku industri tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu menghemat penggunaan energi dan meningkatkan kualitas produk agar kompetitif di pasar global,” tuturnya.

Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa utama, Sulawesi Utara memiliki potensi besar dalam pengembangan industri turunan berbasis kelapa. Pemanfaatan tempurung kelapa menjadi arang bernilai ekspor diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas serta membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Kemenperin pun optimistis bahwa melalui program alih teknologi dan pendampingan seperti yang dilakukan BSPJI Manado, pelaku IKM akan semakin adaptif dalam menghadapi tantangan global, termasuk fluktuasi energi, serta mampu memperkuat kemandirian industri nasional melalui optimalisasi sumber daya domestik.