INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Persaingan bisnis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) semakin memanas. Di tengah derasnya belanja teknologi oleh korporasi, Dataiku memilih mempertegas strategi ekspansi dengan menunjuk Andrew Boyd sebagai Senior Vice President dan General Manager APJ untuk mengakselerasi monetisasi investasi AI di pasar enterprise.
Langkah ini mencerminkan pergeseran arah industri dari sekadar euforia adopsi AI menuju tuntutan profitabilitas dan hasil bisnis yang nyata. Bagi perusahaan teknologi, APJ kini menjadi salah satu kawasan dengan potensi pertumbuhan paling agresif, didorong oleh transformasi digital di sektor keuangan, manufaktur, telekomunikasi, hingga layanan publik.
Boyd akan memimpin strategi go-to-market dan operasional regional, dengan fokus pada pasar utama seperti ASEAN, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Penugasan ini menegaskan ambisi Dataiku untuk memperbesar pangsa pasar di tengah kompetisi yang semakin ketat antar penyedia solusi AI enterprise.
Di tengah tingginya investasi korporasi pada AI, tantangan terbesar bukan lagi soal adopsi teknologi, melainkan bagaimana investasi tersebut dapat dikonversi menjadi efisiensi operasional, pertumbuhan pendapatan, dan keunggulan kompetitif.
“Wilayah APJ kini bergerak dari sekadar ambisi AI menuju akuntabilitas AI, dan tantangan saat ini adalah bagaimana mengembangkan AI secara terkelola serta terhubung langsung dengan hasil bisnis nyata,” ujar Chief Revenue Officer Dataiku, Phil Coady yang dikutip pada Jumat (10/4).
Pernyataan tersebut menegaskan perubahan lanskap pasar, di mana perusahaan kini semakin selektif dalam mengalokasikan anggaran teknologi. Investasi AI yang sebelumnya berfokus pada eksperimen dan proyek percontohan kini dituntut menghasilkan return on investment (ROI) yang jelas.
Dalam konteks ini, penunjukan Boyd menjadi langkah strategis. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun memimpin bisnis teknologi enterprise di APJ, ia dinilai memiliki kapasitas untuk mempercepat penetrasi pasar sekaligus memperkuat hubungan dengan pelanggan korporasi dan institusi pemerintah.
“Andrew memiliki rekam jejak yang kuat dalam membangun bisnis dengan kinerja tinggi di pasar yang kompleks, dan kepemimpinannya akan menjadi kunci dalam membantu pelanggan menjadikan AI sebagai bagian inti operasional mereka,” lanjut Coady.
Persaingan di pasar APJ sendiri diperkirakan akan semakin intens, terutama karena kawasan ini menjadi fokus utama ekspansi perusahaan teknologi global. Regulasi yang beragam, kebutuhan tata kelola data, serta karakteristik pasar yang berbeda antarnegara menjadikan APJ sebagai arena yang menjanjikan sekaligus menantang.
Boyd menilai, keberhasilan ekspansi di kawasan ini tidak cukup hanya mengandalkan inovasi produk, tetapi juga membutuhkan tata kelola yang kuat dan pendekatan lokal yang relevan.
“Sepanjang karier saya dalam membantu organisasi mengembangkan teknologi di kawasan APJ, saya melihat bahwa keberhasilan di wilayah ini membutuhkan lebih dari sekadar inovasi—tetapi juga tata kelola yang kuat, keahlian lokal, serta keterkaitan yang jelas dengan hasil bisnis,” ujar Boyd.
Ia menambahkan, tekanan terhadap korporasi untuk membuktikan nilai investasi AI akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. “Seiring percepatan penerapan AI, organisasi menghadapi tekanan untuk melampaui tahap eksperimen dan benar-benar menghadirkan nilai nyata,” katanya.
Secara global, Dataiku saat ini telah bekerja sama dengan lebih dari 750 organisasi di seluruh dunia. Skala tersebut memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan solusi AI enterprise, terutama saat perusahaan-perusahaan besar mulai mengonsolidasikan berbagai inisiatif AI yang sebelumnya berjalan terpisah.
Dengan APJ sebagai salah satu motor pertumbuhan utama, langkah Dataiku ini dinilai bukan sekadar pergantian kepemimpinan regional, melainkan bagian dari strategi bisnis untuk merebut peluang belanja AI enterprise yang terus membesar di kawasan.