INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan sebesar 4,4% ke level 7.279,21 pada perdagangan Rabu (8/4), didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang positif. Dua katalis utama yang menggerakkan pasar adalah meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah serta kepastian status Indonesia dalam klasifikasi pasar global.
Dari sisi global, sentimen positif muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap Iran selama dua pekan.
Kesepakatan ini dicapai dengan syarat Iran membuka kembali akses Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Iran menyatakan kesiapannya untuk menjamin keamanan jalur tersebut selama periode gencatan senjata dengan koordinasi militer.
Kesepakatan ini turut melibatkan Pakistan sebagai mediator, dengan rencana negosiasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada 10 April. Israel juga dilaporkan menyepakati gencatan senjata tersebut. Meski bersifat sementara, langkah ini cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang lebih luas.
Merespons perkembangan ini, harga minyak Brent turun tajam sebesar 13,7% ke kisaran US$94,3 per barel, mencerminkan meredanya premi risiko geopolitik. Di sisi lain, harga emas justru menguat 2,8% ke level US$4.815 per troy ounce, menunjukkan bahwa investor masih menjaga posisi lindung nilai di tengah ketidakpastian.
Dari dalam negeri, sentimen positif diperkuat oleh keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai secondary emerging market dalam interim review April 2026. Indonesia juga tidak masuk dalam daftar pemantauan (watch list), yang mengindikasikan kepercayaan terhadap stabilitas dan perkembangan pasar modal domestik.
FTSE menyoroti sejumlah kemajuan, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham, pengetatan aturan free float, serta penguatan sistem pengawasan pasar. Pembaruan selanjutnya dijadwalkan sebelum review indeks pada Juni 2026.
Kombinasi faktor global dan domestik ini mendorong masuknya arus dana asing, terutama ke saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor perbankan. Penguatan IHSG pada hari tersebut dipimpin oleh saham-saham unggulan seperti BBCA, AMMN, dan BBRI. Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah juga menguat 0,55% ke level 17.010 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa.
Penurunan harga minyak turut memberikan dampak tambahan bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam meredakan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal. Dengan harga minyak yang kembali mendekati asumsi APBN, tekanan terhadap anggaran negara menjadi lebih terkendali. Hal ini semakin menurunkan risk premium Indonesia di mata investor global.
Dalam kondisi ini, saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM dinilai berpotensi menjadi tujuan utama arus dana asing. Selain itu, saham-saham konglomerasi juga berpeluang menguat seiring meningkatnya sentimen risk-on di pasar.
Di sektor lain, saham logam turut mendapatkan sentimen positif. Kenaikan harga emas serta tetap tingginya harga logam dasar didukung oleh meredanya kekhawatiran resesi global, yang sebelumnya membayangi prospek permintaan.
Sebaliknya, sektor energi berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Penurunan harga minyak dapat berdampak negatif pada kinerja emiten migas dan batu bara, seperti MEDC, ENRG, AADI, dan ITMG.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati bahwa gencatan senjata yang terjadi saat ini bersifat sementara dan belum menjamin berakhirnya konflik secara permanen. Iran sendiri menegaskan bahwa kesepakatan ini bukan akhir dari perang.
Ke depan, terdapat beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar, antara lain hasil negosiasi lanjutan AS–Iran di Islamabad, realisasi pembukaan Selat Hormuz, serta pembaruan dari MSCI menjelang review Mei 2026 dan FTSE menjelang review Juni 2026.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pasar saat ini berada dalam fase optimisme yang tetap dibayangi kehati-hatian, di mana perkembangan geopolitik dan arus dana global akan menjadi penentu arah selanjutnya.