INDUSTRY.co.id -  Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional kembali menghadapi tekanan berat seiring lonjakan harga bahan baku akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia menembus kisaran USD 110 per barel.

Advertisement

Kenaikan harga minyak tersebut berdampak langsung pada bahan baku utama tekstil, khususnya paraxylene, yang merupakan komponen penting dalam produksi polyester.

 

Advertisement

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengatakan, harga paraxylene saat ini telah mencapai USD 1.300 per ton.

“Angka ini naik sekitar 40 persen hanya dalam waktu dua minggu terakhir,” katanya dalam keterangan resminya di Jakarta (7/4).

Advertisement

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh industri hilir. Efek domino diperkirakan akan terjadi secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan.

“Dalam satu minggu ke depan, kenaikan harga akan mulai dirasakan oleh produsen kain. Kemudian dua minggu berikutnya akan sampai ke sektor pakaian jadi,” jelas Redma.

Advertisement

Tak hanya industri hulu dan menengah, sektor ritel juga diprediksi akan terdampak. Redma memperkirakan harga produk tekstil di tingkat konsumen dapat mengalami kenaikan hingga 10 persen.

“Diperkirakan kenaikan di sektor ritel akan berada di sekitar 10 persen,” ungkapnya.

Dari sisi permintaan, APSyFI menilai kondisi pasar masih relatif stabil, bahkan menunjukkan kecenderungan meningkat. Hal ini dipicu oleh harga bahan baku impor yang ikut naik, sehingga produk lokal menjadi lebih kompetitif.

“Hingga saat ini bahan baku polyester maupun rayon produksi dalam negeri masih tersedia. Tidak ada kendala pasokan, hanya harganya yang tinggi,” kata Redma.

Namun, di tengah kondisi tersebut, tingkat utilisasi industri masih jauh dari optimal. Produsen polyester nasional saat ini hanya beroperasi di bawah 40 persen kapasitas, sementara produsen rayon berada di kisaran 70 persen.

Menurut Redma, rendahnya utilisasi ini tidak lepas dari persoalan praktik perdagangan yang dinilai tidak adil di pasar domestik.

“Banyak produsen yang sudah berhenti dan tidak mau beroperasi kembali selama praktik unfair masih terjadi dan dibiarkan. Produsen yang masih berjalan hanya fokus melayani konsumen loyal. Sementara yang biasanya bergantung pada bahan baku impor tidak menjadi prioritas,” tutupnya.