INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan Rabu (1/4) dengan sentimen positif yang cukup kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak +1,93% ke level 7.184,4, didorong oleh optimisme global terkait potensi meredanya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Harapan tersebut muncul setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan kesiapan negaranya untuk mengakhiri konflik, dengan syarat adanya jaminan bahwa agresi serupa tidak akan terulang di masa depan. Dari pihak Amerika Serikat, Presiden Donald Trump juga memberikan sinyal serupa dengan menyebut bahwa negaranya akan segera “meninggalkan” Iran, serta membuka kemungkinan berakhirnya kampanye militer dalam 2–3 pekan ke depan.
Pasar kini menanti pidato resmi Trump yang dijadwalkan pada Rabu malam waktu setempat, yang diharapkan memberikan kejelasan arah kebijakan AS ke depan. Sebelumnya, laporan media menyebutkan bahwa Trump bahkan siap mengakhiri konflik tanpa menunggu pembukaan Selat Hormuz oleh Iran—sebuah langkah yang jika terealisasi dapat meredakan ketegangan global secara signifikan.
Sentimen positif ini tidak hanya terasa di Indonesia. Bursa saham global, khususnya di Amerika Serikat, mencatat lonjakan tajam sehari sebelumnya, dengan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing menguat +2,9% dan +3,8%. Tren ini berlanjut ke Asia, di mana indeks Nikkei melonjak +5,3%, Kospi +8,4%, dan Hang Seng naik +2,0%.
Di pasar komoditas, harga emas terus menguat sebagai respons terhadap dinamika geopolitik, naik +3,5% dan mencapai level US$4.754 per ons hingga sore hari ini. Sebaliknya, harga minyak justru mengalami tekanan, turun -3,2% ke US$104 per barel dan kembali melemah ke US$102,4, seiring meningkatnya ekspektasi pasokan energi akan kembali stabil jika konflik mereda.
Bagi Indonesia, potensi normalisasi harga energi menjadi kabar baik, terutama dari sisi fiskal. Pemerintah sejauh ini belum menunjukkan rencana untuk menaikkan harga BBM, sehingga penurunan tekanan harga minyak dapat membantu menjaga stabilitas anggaran.
Meski IHSG mencatat penguatan signifikan, tidak semua sektor bergerak sejalan. Saham-saham perbankan justru tertinggal, dengan sektor keuangan hanya naik tipis +0,2%. Hal ini terjadi di tengah arus keluar dana asing (foreign outflow) yang masih berlangsung.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level 17.025 per dolar AS pada intraday, sebelum akhirnya ditutup menguat di level 16.980.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan global, khususnya hasil pidato Trump. Arah kebijakan geopolitik dalam waktu dekat berpotensi menjadi penentu utama pergerakan pasar selanjutnya.