INDUSTRY.co.id - Jakarta — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengimbau pelaku industri nasional untuk segera melakukan langkah efisiensi energi secara terencana di tengah dinamika global, khususnya dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan dan memicu kenaikan harga energi dunia.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief menegaskan bahwa efisiensi energi menjadi langkah strategis agar industri tetap mampu menjaga kinerja produksi tanpa terganggu tekanan eksternal.
“Kami yakin industri dalam negeri mampu melakukan langkah efisiensi penggunaan energi dengan tetap mempertahankan target produksi. Upaya ini penting agar kegiatan produksi tetap berjalan optimal, menjaga keberlanjutan operasional industri, meningkatkan daya saing, serta meminimalkan potensi gangguan terhadap rantai pasok dan kinerja sektor manufaktur nasional,” ujarnya di Jakarta (1/4).
Di tengah ketidakpastian global, Kemenperin juga melihat adanya peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri. Pemerintah mendorong industri untuk menangkap momentum ini melalui pendalaman struktur industri dan penguatan kemandirian nasional.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah mendorong investasi baru pada sektor industri yang mampu menghasilkan produk substitusi impor. Strategi ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, khususnya pada industri intermediate dan hilir.
Selain itu, pasar domestik tetap menjadi andalan dalam menjaga pertumbuhan industri nasional. Kemenperin optimistis pelaku industri Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi berbagai krisis global, sebagaimana telah terbukti sebelumnya.
“Kami optimistis pelaku industri dalam negeri telah memiliki pengalaman dan daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai krisis global. Di setiap krisis selalu ada celah dan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong industri agar terus maju dan berkembang,” tegas Febri.
Untuk memperkuat fondasi industri nasional, Kemenperin bersama kementerian dan lembaga terkait terus memperkuat sinergi dengan pelaku industri. Upaya ini mencakup penguatan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku impor dari negara alternatif.
Tak hanya itu, pemerintah juga terus mendorong peningkatan kinerja ekspor dengan memperluas penetrasi ke pasar nontradisional. Optimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) menjadi salah satu strategi utama untuk membuka akses pasar baru bagi produk industri nasional.
Dengan berbagai langkah tersebut, sektor industri diharapkan tidak hanya mampu bertahan di tengah tekanan global, tetapi juga memanfaatkan situasi untuk memperkuat daya saing dan memperluas pasar ke depan.