INDUSTRY.co.id - Jakarta - Jaminan bahwa produk yang dikonsumsi masyarakat aman, bermutu, dan dapat dipercaya sering kali luput dari perhatian. Padahal, di balik hal tersebut terdapat sebuah sistem yang disebut Infrastruktur Mutu, yang mencakup standardisasi, akreditasi, metrologi, serta penilaian kesesuaian seperti pengujian, inspeksi, dan sertifikasi.
Sistem ini menjadi fondasi penting dalam memastikan produk yang beredar memenuhi aspek keamanan, keselamatan, kesehatan, hingga perlindungan lingkungan. Negara dengan Infrastruktur Mutu yang kuat dinilai mampu menghasilkan produk yang dipercaya, baik di pasar domestik maupun internasional. Di Indonesia, peran tersebut dijalankan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Pengakuan terhadap kehandalan sistem ini tercermin dalam Global Quality Infrastructure Index (GQII) 2025. Dalam publikasi terbaru tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-23 dunia dari 185 negara, naik empat peringkat dibandingkan sebelumnya. Capaian ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai yang tertinggi di kawasan ASEAN.
Peringkat tersebut didasarkan pada tiga pilar utama, yakni standardisasi, akreditasi, dan metrologi. Secara rinci, Indonesia berada di posisi ke-38 dunia untuk standardisasi, peringkat ke-32 untuk metrologi, serta menempati posisi ke-4 dunia dalam pilar akreditasi.
Capaian pada sektor akreditasi menjadi salah satu yang paling menonjol. Indonesia bahkan menempati posisi pertama di Asia dan berada di peringkat keempat dunia, di bawah Amerika Serikat, Jerman, dan Meksiko. Lonjakan ini meningkat signifikan dari posisi sebelumnya di peringkat ke-19 dunia, mencerminkan semakin kuatnya sistem penilaian kesesuaian di dalam negeri.
Pelaksana Tugas Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, menegaskan bahwa mutu kini menjadi faktor utama dalam persaingan global. “Di tengah arus globalisasi dan persaingan yang semakin ketat, mutu produk tidak lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi syarat utama untuk bertahan dan berdaya saing,” ujarnya di Kantor BSN, Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa ketiga pilar Infrastruktur Mutu Nasional saling terintegrasi dalam memastikan kualitas produk. “Jika dianalogikan seperti jalan tol yang memperlancar distribusi barang, maka Infrastruktur Mutu Nasional adalah ‘jalan tol kepercayaan’ dalam dunia perdagangan,” katanya.
Selama hampir tiga dekade sejak berdiri pada 26 Maret 1997, BSN terus berperan dalam mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI), memperkuat sistem akreditasi, serta mendukung keandalan pengukuran nasional. Tahun ini, BSN menandai 29 tahun perjalanannya dengan berbagai capaian dalam penguatan sistem mutu nasional.
Penerapan SNI di Indonesia juga menunjukkan tren positif. Dari 5.940 jenis produk yang beredar, sebanyak 1.099 produk atau sekitar 18,5 persen telah menerapkan SNI. Dari jumlah tersebut, 204 produk bahkan berhasil menembus pasar ekspor.
Tak hanya industri besar, manfaat Infrastruktur Mutu juga dirasakan pelaku usaha kecil. Sepanjang 2025, sebanyak 19 Usaha Mikro dan Kecil (UMK) binaan BSN berhasil masuk ke pasar internasional setelah menerapkan standar SNI pada produknya.
Kristianto menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti nyata dampak dari sistem mutu yang diakui secara global. “Posisi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti bahwa Infrastruktur Mutu Nasional yang diakui secara global akan membawa dampak bagi peningkatan daya saing bagi pelaku usaha,” pungkasnya.
Ke depan, BSN akan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan daya saing industri nasional, memperluas akses pasar, serta memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat sebagai konsumen.