INDUSTRY.co.id - Jakarta - Seiring semakin matangnya kawasan industri di Bekasi dan semakin terbatasnya ketersediaan lahan baru, ekspansi industri di wilayah sekitar Jakarta kini mulai bergeser ke koridor timur, yakni Karawang, Purwakarta, dan Subang.
Wilayah-wilayah ini dinilai menawarkan sejumlah keunggulan mulai dari ketersediaan lahan yang lebih luas, konektivitas logistik yang terus berkembang, hingga kesiapan untuk mendukung aktivitas manufaktur skala besar.
Perkembangan ini juga didorong oleh pertumbuhan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) di wilayah tersebut. KEK Batang dan Subang misalnya, mulai berkembang sebagai pusat distribusi regional berkat dukungan infrastruktur yang terintegrasi serta berbagai insentif yang diberikan pemerintah bagi investor.
Pada saat yang sama, Indonesia semakin dipandang sebagai lokasi strategis bagi produsen asal China. Kondisi geopolitik global yang tidak stabil serta kebutuhan perusahaan untuk mendiversifikasi basis manufaktur mendorong investor China memperluas portofolio investasinya di Indonesia. Meski demikian, dinamika geopolitik global tetap berpotensi memengaruhi sentimen investor.
Head of Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, Rivan Munansa, mengatakan bahwa operasional perusahaan China di Indonesia sejauh ini masih berjalan stabil. Namun, investor baru cenderung mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dalam merencanakan ekspansi.
“Operasional perusahaan China di Indonesia masih berjalan stabil, tetapi investor baru cenderung mengambil langkah yang lebih hati-hati. Potensi implikasi terhadap rantai pasok dapat bervariasi dalam bentuk maupun hasil,” ujar Rivan.
Di tengah ketegangan global yang masih berlangsung, terdapat sejumlah potensi dampak terhadap aktivitas investasi industri. Dalam jangka pendek, situasi geopolitik dapat memicu penundaan ekspansi karena investor memilih menunggu kepastian kondisi pasar.
Namun dalam jangka menengah, permintaan terhadap lahan industri justru berpeluang meningkat apabila Indonesia dinilai memiliki stabilitas ekonomi dan daya saing yang kuat dibandingkan negara lain.
Sementara dalam jangka panjang, perubahan dalam rantai pasok global dapat mendorong perusahaan untuk meninjau kembali lokasi produksi mereka. Dalam proses tersebut, Indonesia berpotensi menjadi salah satu alternatif lokasi manufaktur yang dipertimbangkan oleh pelaku industri global.
Meningkatnya momentum di koridor timur Greater Jakarta turut memengaruhi strategi pengembang kawasan industri dan investor. Kawasan Bekasi dan Karawang kini lebih banyak menyerap permintaan terhadap Standard Factory Buildings (SFB) yang bersifat plug-and-play, sementara Purwakarta dan Subang lebih diminati oleh investor yang mencari lahan industri dalam skala besar.
Peningkatan konektivitas logistik juga menjadi faktor penting yang mendorong daya tarik kawasan tersebut. Kehadiran Pelabuhan Patimban serta pengembangan jaringan jalan tol baru membuat kawasan industri di koridor timur semakin terhubung dengan jalur distribusi utama, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Dengan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang terus berkembang, kawasan industri di koridor timur kini mulai diposisikan sebagai anchor utama dalam ekosistem industri regional, bukan lagi sekadar hub satelit bagi kawasan industri yang lebih matang.
Ke depan, Indonesia juga dinilai dapat memperkuat peran kawasan ekonomi khusus sebagai komponen strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Selain berfungsi sebagai basis manufaktur untuk ekspor, KEK juga berpotensi berkembang menjadi hub distribusi regional serta simpul penting dalam jaringan rantai pasok terintegrasi.