INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, menerima audiensi dari Himpunan Desainer Mebel Indonesia (HDMI) untuk membahas penguatan ekosistem ekonomi kreatif, khususnya industri mebel. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Ekraf, Selasa (3/3), menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan asosiasi profesi dalam mengakselerasi talenta, meningkatkan daya saing desain, serta mendorong nilai tambah produk mebel nasional berbasis kekayaan intelektual.
“Asosiasi seperti HDMI memiliki peran krusial untuk membantu kami mengkurasi talenta kreatif yang siap untuk diakselerasi. Asosiasi lah yang paling tahu tantangan dan potensinya di mana,” ujar Menteri Ekraf.
HDMI merupakan organisasi profesi yang menghimpun desainer furnitur dari berbagai daerah di Indonesia. Berdiri pada 28 Oktober 2010 di Universitas Paramadina, HDMI kini memiliki sekitar 200 anggota yang tersebar di sejumlah provinsi. Dalam ekosistem industri kreatif, HDMI berperan sebagai mitra strategis pemerintah, berkolaborasi dengan lembaga pelatihan kerja, serta menjadi rujukan dan mitra bagi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dalam penguatan standar dan kompetensi desainer mebel nasional.
Salah satu fokus utama HDMI tahun ini adalah meningkatkan nilai tambah produk mebel melalui pengelolaan kekayaan intelektual. Sejalan dengan itu, Kementerian Ekraf tengah memperkuat skema pendanaan berbasis KI agar pelaku industri kreatif, termasuk desainer mebel, memperoleh akses pembiayaan yang lebih inklusif.
“Di Indonesia selama ini hanya ada Business Appraisal dan Property Appraisal, kemarin kami sudah melantik 64 IP Evaluator atau IP Appraisal yang sudah dilatih oleh organisasi WIPO. 64 orang ini akan menjadi mitra perbankan untuk pendanaan KUR berbasis kekayaan intelektual. Artinya kita bangun ekosistemnya dalam hal pendanaan,” jelas Teuku Riefky.
Sementara itu, Dewan Pembina HDMI, R.M. Satya Brahmantya, menyoroti keunggulan komparatif Indonesia dari sisi sumber daya alam sebagai fondasi kuat industri desain mebel nasional.
“Desainer di Indonesia sebenarnya memiliki privilege karena natural resource untuk bahan baku kita sangat bagus, contohnya kayu jati, rotan, bambu, dengan ribuan spesies dan jenis yang tersebar di berbagai daerah. Kita perlu bersaing di nilai tambah, material, skill, karakter, dan storytelling,” ujar Brahm.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, menambahkan bahwa subsektor mebel memiliki fondasi industri yang kuat dan berpotensi masuk dalam skema program akselerasi Kementerian.
“Ini menarik karena mebel juga termasuk dalam subsektor kriya, dan sudah memiliki industri yang kuat. Mungkin ke depannya mebel bisa masuk ke dalam kategori di dalam program akselerasi kami,” ujar Yuke.
Melalui sinergi antara Kementerian Ekraf dan HDMI, diharapkan posisi desainer mebel Indonesia semakin kuat, tidak hanya sebagai produsen berbasis sumber daya alam, tetapi juga sebagai kreator dengan nilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.