INDUSTRY.co.id - Media sosial sudah menjadi ruang hidup kedua bagi remaja Indonesia. Di sana mereka berteman, mengekspresikan diri, mencari pengakuan, bahkan membentuk cara pandang tentang siapa diri mereka. Namun ruang yang sama juga kerap menjadi arena perundungan. Komentar menyakitkan, ejekan berjemaah, hingga serangan personal dapat meninggalkan luka psikologis yang tidak ringan.
Ironisnya, situasi ini terjadi ketika literasi digital terus digencarkan. Remaja semakin mahir menggunakan teknologi, tetapi perilaku bermedia sosial yang bertanggung jawab tidak otomatis terbentuk. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya membentuk perilaku digital remaja?
Riset kami yang dipublikasikan di jurnal Media Asia pada 18 Januari 2026 mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Kami melibatkan 124 remaja usia sekolah menengah di Salatiga, Jawa Tengah, yang mengikuti kegiatan literasi digital. Kami mengukur kesadaran etika digital, empati digital, norma teman sebaya, dan perilaku bermedia sosial yang bertanggung jawab. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Ada tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu etika, empati, dan pengaruh teman sebaya.
Etika memberi arah, tetapi belum tentu menggerakkan tindakan
Etika digital merujuk pada kesadaran tentang apa yang benar dan salah di dunia maya. Ini mencakup menghormati privasi, tidak menyebarkan kebencian, berpikir sebelum mengunggah, dan menahan diri dari tindakan yang merugikan orang lain. Dalam riset kami, remaja dengan kesadaran etika digital yang lebih tinggi cenderung menunjukkan perilaku yang lebih bertanggung jawab di media sosial.
Namun mengetahui yang benar belum tentu membuat seseorang bertindak benar. Banyak remaja memahami bahwa mengejek atau menyebarkan konten yang mempermalukan orang lain adalah tindakan yang salah, tetapi tetap melakukannya. Tekanan kelompok, keinginan untuk diterima, atau dorongan sesaat sering kali lebih kuat daripada pengetahuan moral yang dimiliki.
Empati menjadi jembatan dari tahu menjadi peduli
Di sinilah empati digital berperan penting. Empati digital adalah kemampuan memahami dan merasakan dampak emosional dari tindakan kita terhadap orang lain di ruang online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati menjadi penghubung antara etika dan perilaku nyata. Etika mendorong empati, dan empati mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab.
Remaja yang mampu membayangkan bagaimana perasaan orang lain saat menerima komentar menyakitkan lebih mungkin menahan diri dari perundungan, tidak ikut menyerang, atau bahkan memberikan dukungan kepada korban. Empati mengubah etika dari sekadar pengetahuan menjadi dorongan emosional untuk bertindak dengan lebih bijak.
Norma teman sebaya membentuk budaya digital remaja
Temuan lain yang tidak kalah penting adalah kuatnya pengaruh norma teman sebaya. Perilaku digital remaja sangat dipengaruhi oleh apa yang dianggap wajar dalam lingkungan pertemanan mereka. Jika dalam sebuah kelompok ejekan dianggap lucu dan komentar kasar dianggap hiburan, maka cyberbullying mudah dinormalisasi. Sebaliknya, jika norma kelompok menekankan kesantunan dan kepedulian, perilaku positif lebih mudah tumbuh.
Dalam konteks Indonesia yang cenderung kolektivis, pengaruh teman sebaya dapat menjadi faktor yang sangat kuat. Riset kami menunjukkan bahwa norma teman sebaya memiliki hubungan langsung dengan perilaku bermedia sosial yang bertanggung jawab. Ketika etika, empati, dan norma positif hadir bersama, ketiganya mampu menjelaskan sebagian besar variasi perilaku digital remaja yang bertanggung jawab.
Temuan ini menunjukkan bahwa pencegahan cyberbullying tidak cukup hanya menyasar individu. Budaya kelompok juga harus menjadi perhatian utama.
Literasi digital perlu bergeser menjadi pendidikan karakter digital
Selama ini literasi digital di Indonesia banyak menekankan keamanan dan keterampilan teknis. Hal tersebut penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan perilaku. Jika ingin mengurangi cyberbullying secara lebih serius, pendidikan digital perlu memberi ruang yang lebih besar pada pembentukan karakter.
Etika digital perlu diajarkan bukan hanya sebagai aturan, tetapi sebagai latihan mengambil keputusan saat menghadapi tekanan sosial di ruang online. Empati digital perlu dikembangkan melalui diskusi, simulasi kasus, dan refleksi bersama agar remaja terbiasa mempertimbangkan dampak emosional dari tindakan mereka. Norma positif juga perlu dibangun melalui pendekatan berbasis teman sebaya, misalnya melalui duta pelajar, kampanye komunitas, dan ruang diskusi yang aman.
Remaja tidak cukup diposisikan sebagai objek sosialisasi. Mereka perlu dilibatkan sebagai agen perubahan yang ikut membentuk budaya digital yang lebih sehat.
Riset ini memberi petunjuk arah, bukan jawaban akhir
Riset ini berbasis survei dan menggambarkan pola hubungan yang kuat antara etika, empati, norma teman sebaya, dan perilaku bertanggung jawab. Data dikumpulkan setelah kegiatan literasi digital sehingga kemungkinan ada pengaruh konteks pelatihan terhadap jawaban responden. Namun temuan ini tetap memberikan arah yang jelas. Ketika etika diperkuat, empati dilatih, dan norma kelompok mendukung perilaku positif, peluang munculnya perilaku digital yang bertanggung jawab menjadi lebih besar.
Cyberbullying bukan sekadar persoalan teknologi atau fitur aplikasi. Tindakan ini mencerminkan bagaimana nilai, emosi, dan relasi sosial bekerja di ruang digital. Tantangan kita bukan hanya mencetak generasi yang cakap teknologi, tetapi juga generasi yang tetap manusiawi di balik layar. Itu hanya dapat dicapai jika pendidikan digital menempatkan etika dan empati sebagai inti, bukan sebagai pelengkap.
Penulis: Abhirama Swastyayana Dian Perdana, S.Pd., M.Ed., MComn&MediaSt.
Afiliasi: Communication Science, Faculty of Social Science and Education, President University