INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penundaan kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) oleh Uni Eropa serta penerapan tarif 0% Amerika Serikat untuk produk kakao Indonesia menjadi angin segar bagi industri kakao nasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengatakan dinamika kebijakan global tersebut membuka ruang ekspansi pasar yang lebih luas bagi produk kakao olahan Indonesia.
“Ini membuka peluang bagus untuk pasar kita, sehingga semua pihak harus bersinergi agar kinerjanya maksimal,” ujar Putu dalam diskusi di Jakarta, Jumat (27/2).
Amerika Serikat selama ini menjadi salah satu pasar utama ekspor kakao olahan Indonesia. Dengan kebijakan tarif 0%, pemerintah optimistis pangsa pasar produk kakao Indonesia di AS dapat menembus 11%.
“Kita lihat ini hasil negosiasinya sangat bagus. Kita berharap market share kita di Amerika itu sekitar 11 persen,” jelasnya.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Jeffrey Haribowo menambahkan bahwa selama ini produk kakao Indonesia menghadapi bea masuk 6-8% ketika masuk pasar Eropa. Hal ini membuat daya saing relatif tertahan dibandingkan negara pesaing.
“Dengan perkembangan tarif baru, kita akan mendapatkan preferensi tarif yang sama yaitu 0 persen di tahun kelima. Ini tentu sangat strategis bagi daya saing kita,” kata Jeffrey.
Ia menjelaskan, struktur ekspor kakao Indonesia saat ini didominasi produk olahan. Sekitar 80% ekspor merupakan produk intermediate seperti lemak kakao (cocoa butter) dan bubuk kakao (cocoa powder), bukan biji mentah.
“Dari hasil negosiasi dengan AS, produk olahan kakao kita mendapatkan privilege yang luar biasa. Ekspor lemak kakao kita ke AS sangat besar,” tambahnya.
Devisa Tembus US$ 3,42 Miliar
Secara kinerja, industri pengolahan kakao menunjukkan tren positif. Sepanjang 2024, volume penggilingan (grinding) mencapai 422.176 ton atau tumbuh 4,43% secara tahunan, dengan kontribusi devisa sebesar US$ 3,42 miliar.
Dari total ekspor kakao olahan nasional, sekitar 35% diserap pasar luar negeri. Dengan terbukanya akses pasar AS dan tertundanya EUDR, pemerintah menilai potensi peningkatan produksi dan ekspor masih sangat besar.
Namun demikian, tantangan utama terletak pada pasokan bahan baku. Utilisasi kapasitas produksi industri pengolahan kakao saat ini berada di kisaran 50%-60%, meski di beberapa segmen sudah mencapai sekitar 73%. Artinya, masih ada ruang signifikan untuk meningkatkan output.
“Sebenarnya tugas kita sekarang adalah bagaimana memperbaiki produktivitas bahan baku. Pasar sangat terbuka sekarang,” tegas Jeffrey.
Selain Amerika Serikat dan Eropa, pasar China juga dinilai sebagai emerging market yang sangat potensial. Permintaan produk olahan cokelat di Negeri Tirai Bambu terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya konsumsi.
“Potensi pasar China besar sekali. Mereka butuh banyak produk olahan cokelat. Kalau bahan baku kita bisa mandiri, industri akan jauh lebih leluasa berkembang,” ujarnya.
Hulu-Hilir Diperkuat
Untuk menjawab tantangan pasokan, Kemenperin mendorong penguatan ekosistem hulu-hilir, termasuk integrasi komoditas kakao dalam skema Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), revitalisasi kebun kakao, serta penguatan riset dan inovasi.
Peran pelaku artisan kakao juga dinilai strategis dalam meningkatkan nilai tambah dan penetrasi pasar premium. Jumlah artisan kakao meningkat dari 31 perusahaan pada akhir 2023 menjadi lebih dari 50 unit usaha, yang fokus pada grading dan pengembangan kakao premium.
Indonesia juga akan menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta. Konferensi bertema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World” itu diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi dan transformasi sektor kakao nasional.
Dengan kombinasi kebijakan global yang lebih kondusif, preferensi tarif 0%, serta dorongan penguatan bahan baku domestik, pemerintah optimistis ekspor kakao olahan Indonesia berpeluang melonjak signifikan dalam beberapa tahun ke depan.