INDUSTRY.co.id -
Jakarta, era 1990-an, saat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) seolah menjadi “bahasa sehari-hari” dalam birokrasi Indonesia, muncul satu sosok yang terasa langka: Mar'ie Muhammad.
Ia pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak (1988–1993), lalu dipercaya menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan VI (1993–1998) di era Soeharto. Kursinya dikenal “basah”, dengan kekuasaan besar dan akses luas. Namun bajunya tetap kering dari cipratan uang haram.
Saking bersihnya, ia dijuluki “Mr. Clean” oleh jurnalis asing dan para pengamat ekonomi. Ia bahkan menyebut dirinya “Mr. Cuek”, karena minimnya interaksi dengan media.
Mengapa?
Karena ia dikenal berani menolak “amplop”, menolak “komisi”, dan menolak “titipan proyek” dari siapa pun — termasuk dari lingkaran kekuasaan terkuat saat itu.
Membenahi Pajak, Menjaga Integritas
Sebelum menjadi Menteri Keuangan, Mar’ie memimpin Direktorat Jenderal Pajak. Langkahnya tegas. Ia membersihkan praktik-praktik kotor di internal. Pegawai yang bermain mata dengan pengusaha langsung ditindak, tanpa kompromi.
Baginya sederhana: "Pajak adalah uang rakyat, bukan uang jajan pejabat."
Ia ingin membuktikan bahwa integritas bukan sekadar slogan.
Ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada 1993–1998, sikapnya tetap sama. Ia dikenal “pelit”, namun pelit untuk negara. Perjalanan dinas yang tak penting dipangkas, pemborosan ditolak, anggaran dikawal ketat.
Prinsipnya jelas: "Setiap rupiah adalah uang rakyat dan harus dipertanggungjawabkan."
Di saat pejabat lain bangga dengan mobil dinas mewah, ia justru lebih nyaman menggunakan Toyota Kijang pribadinya. Saat pensiun, seluruh fasilitas negara dikembalikan tanpa sisa.
Tak ada rumah mewah hasil korupsi. Tak ada koleksi mobil sport. Tak ada jejak harta mencurigakan.
Di Garis Depan Krisis 1997
Ketika Krisis Moneter 1997 menghantam Indonesia, Mar’ie Muhammad berada di garis depan. Pada November 1997, ia mengambil keputusan ekstrem: menutup 16 bank bermasalah, termasuk bank yang terkait kelompok kuat di lingkaran kekuasaan. Keputusan itu berisiko besar. Namun ia memilih menjaga integritas negara, bukan menjaga kenyamanan jabatan.
Akar Kehidupan dan Pendidikan
Mar’ie Muhammad lahir pada 3 April 1939. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di kawasan Ampel, Surabaya, lingkungan yang kental dengan kultur Arab dan nilai-nilai Islam. Ia tumbuh dalam atmosfer pembaruan Islam yang telah berkembang sejak awal abad ke-20.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyyah Surabaya, di tengah masa Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Lingkungan pendidikan dan sosialnya membentuk karakter sederhana dan religius yang melekat sepanjang hidupnya.
Ia meraih gelar Master of Arts in Economics dari Universitas Indonesia. Kariernya di Departemen Keuangan dimulai sejak 1969 di Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara. Ia kemudian mengabdi di Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN hingga 1988 sebelum dipercaya memimpin Direktorat Jenderal Pajak.
Setelah tak lagi menjabat Menteri Keuangan, ia tetap aktif di berbagai lembaga, termasuk sebagai Ketua Oversight Committee BPPN (2001–2004) dan Ketua Palang Merah Indonesia (1999–2009). Ia juga terlibat dalam Masyarakat Transparansi Indonesia serta berbagai organisasi kemanusiaan.
Warisan yang Tersisa
Mar’ie Muhammad wafat pada 11 Desember 2016 di usia 77 tahun, di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta. Ia pergi tanpa meninggalkan tumpukan aset atau properti mewah. Warisan terbesarnya hanya satu: integritas.
Mantan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, mengenangnya sebagai sosok raksasa moral dan mentor yang menjadi standar tertinggi penjaga keuangan negara.
Ia juga menerima penghargaan negara berupa Bintang Mahaputera Utama (1992) dan Bintang Mahaputera Adipradana (1996).
Di era ketika media sosial dipenuhi kisah “pejabat pamer Rubicon” dan tas mewah, sosok seperti Mar’ie Muhammad terasa semakin dirindukan. Ia membuktikan bahwa kekuasaan tidak harus menjadi alat memperkaya diri.
Bahwa menjadi pejabat bukan tentang seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa bersih nama yang dibawa pulang.