INDUSTRY.co.id -Jakarta-Pada perdagangan Kamis (24/8/2017), diperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak tertekan pada perdagangan selanjutnya dengan kisaran level 5880-5930.
Saham-saham yang masih dapat menjadi perhatian diantaranya JSMR, ACES, PTBA, UNTR, ISAT, LPCK.
“Pergerakan optimis diperlihatkan IHSG dengan berhasil break out resistance dilevel tertinggi setelah sebelumnya melakukan rebound pada support MA5. Penguatan ini cenderung konsolidatif pasalnya momentum pergerakan dari Indikator Stochastic dan RSI yang jenuh beli memberikan permulaan signal koreksi,” kata Lanjar Nafi, analis Reliance Sekuritas di Jakarta, Kamis (24/8/2017).
Pada perdagangan Rabu (23/8/2017), IHSG (+0.57%) sontak dibuka menguat dengan ditutup kembali break harga tertinggi naik 33.73 poin sebesar +0.57% dilevel 5914.02 dengan volume tertinggi dibulan ini. Sektor pertambangan (1.91%) dan Konsumsi (+1.09%) menjadi pemimpin penguatan. Penguatan harga komoditas tambang dan optimisme investor terhadap konsumer menjadi pendorong utama IHSG kelevel tertinggi tahun ini.
Ia bilang agresifitas Bank Indonesia dengan memangkas suku bunga acuan 25bps kelevel 4.50% dari 4.75% tidak mambawa angin optimis yang cukup kuat dimana sektor-sektor unggulan yang dikira mendapat angin positif seperti Property (-0.06%) dan Keuangan (+0.56%) tidak cukup signifikan melakukan pergerakan. Investor asing pun tercatat melakukan aksi beli bersih sebesar 364.87 Miliar rupiah.
Diketahui indeks saham di Asia seperti Nikkei (+0.26%), Topix (+0.25%), Hangseng (+0.91%), Shanghai (+0.10%), Kospi (+0.05%) dan IHSG (+0.57%) mayoritas menguat. Survey Indeks Kinerja manufaktur di Jepang naik signifikan 52.8 dari 52.1 menjadi salah satu sentimen positif indeks saham Jepang pada perdagangan hari ini.
Indeks saham di Eropa dibuka terkonsolidasi flat dimana Eurostoxx50 (-0.05%), FTSE100 (-0.06%) dan DAX (-0.04%). Data ekonomi Eropa yang cukup baik gagal mendorong lebih kepercayaan pada pertumbuhan ekonomi di zona Eropa. Pada hari ini rilis data kinerja manufaktur yang berkontraksi positif dengan ekspektasi gagal direspon positif investor. Pergerakan yang flat tersebut seakan diakibatkan jenuhnya investor melihat lonjakan harga yang telah terjadi sejak awal pekan ini. Sentimen selanjutnya cenderung flat minimnya data ekonomi yang menjadi katalis pertumbuhan ekonomi dunia menjadi faktornya. Sehingga pergerakan yang cenderung mendatar dan tertekan akan mewarnai sebagian besar indeks saham di dunia.