INDUSTRY.co.id - Yogyakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) berkomitmen membantu pemerintah dalam memperkuat pendidikan vokasi industri sebagai tulang punggung pengembangan SDM kompeten dan berdaya saing global.

Hal itu disampaikan Kepala BPSDMI Kemenperin Doddy Rahadi saat menghadiri kegiatan akademik di Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, satu-satunya perguruan tinggi berbasis teknologi kulit di Asia Tenggara.

“ATK merupakan satu-satunya kampus di Asia Tenggara yang fokus pada teknologi kulit. Kampus ini harus menjadi center of excellence dan rujukan industri dalam proses penyamakan, pemrosesan hingga desain produk turunannya,” kata Doddy di Yogyakarta, Senin (8/12).

Ia menambahkan, perkembangan teknologi kulit, karet, dan plastik membutuhkan pendidik yang adaptif terhadap inovasi terbaru.

“Dosen harus memberi wawasan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga nilai tambah dan model bisnis,” ujarnya.

ATK diketahui memiliki sekitar 300 mahasiswa aktif dan meluluskan 163 mahasiswa tahun ini. Doddy menilai lulusan perlu menjadi penggerak industri bernilai tambah tinggi.

“Kulit mentah murah, tapi ketika diproses menjadi produk premium nilainya bisa miliaran rupiah,” tegasnya.

Doddy menjelaskan bahwa penguatan vokasi industri merupakan pilar penting dalam Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Menurutnya, kebutuhan SDM industri meningkat seiring pertumbuhan sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, industri 4.0, dan industri hijau.

“Pertumbuhan ekonomi tidak mungkin tercapai bila SDM-nya masih seperti dulu. SDM harus produktif, kompeten, dan berorientasi global,” ucapnya.

Ia juga menyoroti wisuda serentak 2.993 lulusan dari 11 politeknik, dan 2 akademi komunitas Kemenperin sebagai bukti kontribusi nyata pendidikan vokasi.

Dikesempatan yang sama, Direktur Politeknik ATK Yogyakarta, Sonny Taufan menegaskan, pihaknya menargetkan menjadi penyelenggara pendidikan vokasi industri yang unggul di tingkat global pada 2030.

“Kami ingin mencetak tenaga ahli yang siap kerja, adaptif, dan menjadi motor penggerak industri hilir. Seluruh pengembangan kami sejalan dengan strategi Kemenperin dalam memperkuat daya saing industri nasional,” kata Sonny.

Politeknik ATK menerapkan sistem pendidikan 4-2, yakni empat semester teori dan praktikum di kampus serta dua semester pengalaman industri melalui skema MBKM.

“Industri membutuhkan tenaga siap operasional dengan mindset teknologis. Skema ini menjawab kebutuhan tersebut,” jelas Sonny.

Politeknik ATK menyelenggarakan tiga program studi Diploma 3 yaitu, Teknologi Pengolahan Kulit, Teknologi Pengolahan Produk Kulit, Teknologi Pengolahan Karet dan Plastik.

Ketiganya dirancang untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi teknis tinggi, mulai dari produksi, material, desain, hingga pengujian mutu.

Politeknik ATK memperkuat pembelajaran melalui fasilitas modern: laboratorium kimia, mikrobiologi, polimer, pengujian fisis, desain, limbah, hingga workshop sepatu, busana, karet, plastik, dan produk kulit.

Salah satu unggulan adalah Satelit PIDI 4.0, termasuk pelatihan AI untuk pemeriksaan kualitas kulit bagi IKM. “Transformasi digital tidak bisa ditunda. Teknologi 4.0 harus dibawa langsung ke bengkel kerja,” tegas Sonny.

ATK mengembangkan produk teaching factory berupa sepatu, tas, clutch, hingga layanan inkubasi bisnis yang telah melahirkan tenant industri, seperti sepatu custom, produk limbah plastik, dan kulit samak.

Pada 2025, tiga program studi dan perpustakaan ATK berhasil meningkatkan akreditasi. Serapan lulusan per November 2025 mencapai 80,92%, menunjukkan kepercayaan industri terhadap output vokasi ATK.

Sementara, jumlah mahasiswa baru meningkat dari 149 pada 2024 menjadi 265 pada 2025, termasuk 40 mahasiswa kelas industri.

Kementerian Perindustrian menilai ATK berperan strategis dalam memperkuat ekosistem vokasi industri, terutama karena Indonesia memiliki basis industri kulit, alas kaki, karet, dan plastik yang kuat.

“Kami ingin mencetak talenta yang tidak hanya siap bekerja, tetapi mampu mendorong industrialisasi nasional,” tutup Sonny.