INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pasar obligasi merspon sinyal positif terhadap  Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) untuk 2018 yang telah diajukan oleh pemerintah. Pasar obligasi pemerintah dan korporasi tetap mendapat sentiment positif.

Ekonom Pefindo Ahmad Mikail menjelaskan positifnya karena yield obligasi pemerintah tetap turun karena didukung inflasi saat ini sudah rendah. Inflasi Juli 2017, mencapai 0,22%, berdasarkan hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS).

“Pasar obligasi tetap tinggi setelah rating upgrade menjadi investment grade, sisi area 72% kuartal III awal kuartal IV mencapai 90-100%. Secara market pasar lihat sisi positif lihat efek investment grade,” kata dia di Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Ia bilang RAPBN mencantumkan deficit anggaran yang memungkinkan pemerintah menerbitkan surat utang. Pemerintah di RAPBN 2018 menyebutkan deficit anggaran 2,19%, lebih rendah dari defisit anggaran tahun 2017 yang di level 2,67% . Ruang deficit tersebut ada karena pemerintah mengetahui jika penyerapan pajak tidak akan 100%.

“Penerimaan anggaran pajak enggak 100% maka ada defisit, adanya obligasi pemerintah untuk jaga belanja infrastruktur. Kedua jaga tidak ada kenaikan harga subsidi.