INDUSTRY.co.id - Batam – Indonesia segera menjadi magnet baru industri teknologi tinggi dunia. Konsorsium perusahaan asal Amerika Serikat dan Jerman yang melibatkan PT Quantum Luminous Indonesia, PT Terra Mineral Nusantara, dan Tynergy Group resmi memulai langkah besar untuk membangun fasilitas industri semikonduktor, hilirisasi pasir silika, serta manufaktur kaca berteknologi tinggi di Kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) Wiraraja Green Renewable Energy and Smart-Eco Industrial Park, Pulau Galang, Batam.

Proyek yang menelan investasi lebih dari USD 26,7 miliar atau sekitar Rp 430 triliun (kurs Rp16.00) ini disebut sebagai salah satu investasi industri berbasis teknologi terbesar yang pernah masuk ke Indonesia. Pembangunan fisik ditargetkan mulai pada awal 2026, menunggu penyelesaian seluruh proses perizinan di BP Batam dan pemerintah pusat.

Komitmen investasi ini pertama kali mencuat dalam diskusi antara Tynergy Group dan pemerintah Indonesia pada gelaran KTT G20 Bali 2022. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang membuka peluang pembahasan lanjutan mengenai hilirisasi dan penguatan rantai pasok semikonduktor global.

Keseriusan konsorsium semakin nyata setelah penandatanganan MoU pada Hannover Messe 2023 di Jerman, di mana Indonesia menjadi official country partner. Kesepakatan tersebut menegaskan komitmen jangka panjang untuk menjadikan Indonesia pusat manufaktur strategis yang mendukung agenda hilirisasi nasional.

Langkah ini kemudian diformalkan pada 12 November 2023 melalui penandatanganan kerja sama antara Tynergy Group dan PT Galang Bumi Industri, pengelola PSN Wiraraja. Penandatanganan disaksikan oleh Duta Besar Indonesia untuk AS saat itu, Rosan Roeslani.

Konsorsium menyampaikan rencana pembangunan ekosistem industri berteknologi tinggi yang meliputi, pabrik semikonduktor untuk produksi chip dan komponen elektronik global, fasilitas manufaktur solar cell dan wafer, pabrik hilirisasi pasir silika sebagai bahan baku industri kaca dan teknologi tinggi.

Proyek ini diharapkan memperkuat rantai pasok nasional, membuka ribuan lapangan kerja baru, dan menghadirkan transfer teknologi dari Amerika Serikat dan Jerman kepada talenta Indonesia.

Konsorsium secara resmi meminta percepatan pengurusan perizinan PSN agar konstruksi dapat dimulai pada awal 2026. Kepastian perizinan dinilai penting untuk memaksimalkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok global semikonduktor dan energi terbarukan.

Presiden Direktur PT Quantum Luminous Indonesia, Walter William Grieves, menegaskan kesiapannya untuk bergerak cepat.

“Kami sudah menyampaikan surat percepatan investasi kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi untuk kedua kalinya. Kami juga mengajak BP Batam melihat langsung fasilitas kami di Amerika Serikat dan Jerman. Proyek ini akan mulai dibangun pada awal 2026 setelah seluruh persetujuan BP Batam diterima,” ujarnya melalui keterangan resminya (2/12).

Konsorsium memproyeksikan proyek ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional. Pada 2029, proyek diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, melalui peningkatan investasi, ekspor produk teknologi tinggi, dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Selain itu, hilirisasi pasir silika dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan memperkuat industri bernilai tambah tinggi. 

Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, Indonesia berpeluang naik kelas menjadi pemain penting industri semikonduktor global. Dengan dukungan PSN Wiraraja sebagai pusat industri hijau dan terintegrasi, Indonesia disebut sangat potensial menjadi hub manufaktur high-tech di Asia.

Proyek ini sekaligus mempertegas posisi Batam sebagai salah satu pusat industri strategis dalam peta investasi global.