INDUSTRY.co.id - Bogor – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri melalui pendidikan vokasi. Pada momentum wisuda nasional tahun ini, sebanyak 2.993 lulusan dari jenjang Diploma hingga Magister Terapan resmi dikukuhkan sebagai alumni perguruan tinggi vokasi Kemenperin.
Tidak hanya itu, Kemenperin juga mengukuhkan dua Guru Besar baru, yang menjadikan total Guru Besar di unit pendidikan Kemenperin menjadi enam orang. Pengukuhan ini disebut sebagai tonggak penting dalam penguatan inovasi dan pemajuan riset di sektor industri.
Adapun kedua Guru Besar tersebut yaitu, Prof. Dr. Candra Irawan, M.Si., Guru Besar bidang Kimia Organik Bahan Alam, Program Studi Nanoteknologi Pangan, Politeknik AKA Bogor, serta Prof. Dr. Siti Aisyah, S.T., M.T., Guru Besar bidang Operation Engineering & Management, Program Studi Teknik Industri Otomotif, Politeknik STMI Jakarta.
"Pengukuhan ini sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta kontribusi nyata terhadap industri nasional," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara "Wisuda Nasional Perguruan Tinggi Vokasi Kemenperin" di Bogor, Kamis (27/11).
Dia menegaskan bahwa penguatan SDM adalah fondasi utama untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045, yakni Indonesia yang maju, berdaulat, dan berkelanjutan. Menurutnya, SDM unggul yang dibutuhkan Indonesia harus memiliki tiga kemampuan yaitu, Penguasaan teknologi masa depan, Pemahaman proses industri modern, serta Kemampuan adaptasi terhadap perubahan global.
Presiden Prabowo Subianto, dalam Rapat Kabinet sebelumnya, juga menegaskan bahwa pendidikan vokasi merupakan strategi penting untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus mencetak tenaga siap kerja yang relevan dengan kebutuhan industri global. Penegasan tersebut selaras dengan Asta Cita, misi pembangunan nasional yang menekankan percepatan industrialisasi, hilirisasi berkelanjutan, hingga transformasi digital.
Seperti diketahui, Indonesia saat ini tengah berada pada bonus demografi, dengan total 218,17 juta penduduk usia kerja. Namun, masih terdapat 7,46 juta pengangguran dan 64,17 juta bukan angkatan kerja. Melihat kondisi tersebut, Kemenperin menilai perlu langkah agresif untuk meningkatkan kapasitas SDM, memperluas lapangan kerja, dan menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri nasional maupun global.
Untuk memperkuat penyediaan SDM kompeten, Kemenperin mengelola ekosistem pendidikan vokasi yang mencakup 13 Politeknik dan Akademi Komunitas, 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan 7 Balai Diklat Industri. Seluruh lembaga ini dibangun dengan spesialisasi kompetensi sesuai kebutuhan dunia industri, dilengkapi mekanisme link and match serta tenaga pendidik profesional yang terus diperbarui kompetensinya.
Menperin Agus menyampaikan bahwa lulusan vokasi yang dihasilkan dari lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenperin telah bekerja di berbagai sektor manufaktur, bahkan tersebar di lebih dari 15 negara. Jaringan global ini disebut sebagai aset strategis yang dapat dimanfaatkan alumni untuk pengembangan karier dan kontribusi balik bagi industri nasional.
Oleh karena itu, dirinya berpesan untuk wisudawan untuk menekankan pentingnya menjaga nilai moral kejujuran, terus belajar dan beradaptasi, memperkuat integritas dan profesionalisme, membangun jejaring dengan alumni, industri, dan masyarakat, serta menjaga nama baik almamater.
Menperin juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan kampus, sivitas akademika, mitra industri, dan orang tua mahasiswa atas dukungan berkelanjutan terhadap pendidikan vokasi industri.
"Saya mengajak seluruh pihak untuk memperkuat komitmen membangun SDM Indonesia yag kompetitif, kompeten, produktif, inovatif, dan adaptif sebagai fondasi Indonesia menuju negara industri maju," tutup Menperin.