INDUSTRY.co.id - Jakarta — PT Bank Maybank Indonesia Tbk berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) meluncurkan program pemberdayaan kelompok petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan sekaligus menjaga kelestarian hutan hujan tropis Kalimantan.
Program ini dirancang untuk mendukung kelompok petani perempuan dalam menerapkan praktik pertanian berkelanjutan melalui pendekatan agroforestri dan pelatihan intensif. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kakao, kesejahteraan keluarga petani, serta melindungi kawasan hutan dari ancaman alih fungsi lahan.
Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan telah menjadi fokus utama perusahaan.
“Kami percaya bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci menciptakan perubahan berkelanjutan. Melalui kerja sama ini, kami ingin mendukung komunitas perempuan di Kalimantan yang selama ini berkontribusi besar dalam menjaga hutan sekaligus menjadi pelaku ekonomi yang tangguh,” ungkap Maria.
Ini menjadi kali pertama Maybank Indonesia memberikan dukungan langsung kepada kelompok perempuan petani kakao di Kampung Merasa. Program ini juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam pengembangan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia dan pendanaan proyek ramah lingkungan.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara konservasi dan perekonomian nasional.
Indonesia sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia menghadapi tantangan serius akibat pembukaan lahan yang berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca.
“Pendekatan berbasis masyarakat seperti perhutanan sosial dan pengelolaan kakao berkelanjutan menjadi solusi efektif. Dengan dukungan Maybank Indonesia, kami menargetkan 100 perempuan penerima manfaat langsung, melibatkan 500 masyarakat dalam ‘pengambilan keputusan hijau’, serta melindungi setidaknya 100 hektare hutan di Kampung Merasa,” jelas Herlina.
Community Development Manager YKAN, Dina Riska, memaparkan bahwa kakao fermentasi dari Kampung Merasa memiliki cita rasa khas madu dan citrus. Kekhasan ini dipengaruhi oleh keberadaan pohon banggeris yang menjadi tempat bersarang lebah penghasil madu.
YKAN telah mendampingi petani sejak 2019 melalui Internal Controlling System (ICS) untuk membantu menghasilkan kakao premium yang dapat diterima pasar.
Pada 2021, petani Merasa mengirim sampel kakao ke ajang seleksi nasional untuk kategori Cocoa of Excellence di Paris. Meski belum menjadi pemenang utama, kakao Merasa berhasil masuk 8 besar dan menjadi batu loncatan untuk bekerja sama dengan produsen cokelat artisan lokal, Pipiltin Cocoa.
“Kami sangat tertarik dengan kualitas kakao Merasa. Pada 2022, kami mengangkatnya sebagai produk Single Origin Kampung Merasa 74 persen, yang menjadi perwakilan pertama kakao dari Kalimantan di Pipiltin,” kata Head of Sales Pipiltin Cocoa, Riza Amala.
Namun, kendala keterampilan hingga musibah banjir menyebabkan produksi Kakao Merasa belum stabil. Perwakilan kelompok petani kakao perempuan Merasa, Irmaya Banewang, menyampaikan bahwa permintaan kakao fermentasi semakin meningkat, namun kapasitas produksi perlu diperkuat.
“Kami sangat bersemangat. Dengan dukungan ini, kami berharap anak muda di kampung percaya bahwa bertani kakao punya masa depan. Kami ingin hidup sejahtera tanpa harus merusak hutan, karena bagi kami, hutan adalah bagian dari hidup yang harus dijaga,” tuturnya.