INDUSTRY.co.id - Di Jakarta, kisah keluarga Cheria mungkin tidak semencuat Kamaruddin–Najerah yang memiliki 16 anak atau Gen Halilintar dengan 11 anak. Namun perjalanan hidup Cheriatna (51), putra pedagang kembang di Rawa Belong, bersama Farida Ningsih (50), memiliki daya pikat tersendiri. Pernikahan mereka membawa Farida melewati 14 kali kehamilan yang penuh suka dan duka.

‎Tertatih di Awal Pernikahan

Awal pernikahan jauh dari kata mudah. Selama hampir setahun, pasangan ini hanya mampu makan nasi dan garam. Cheriatna melakukan berbagai pekerjaan seperti menjual koran, mengayuh odong-odong, hingga mencoba berbagai usaha mulai dari berjualan sembako hingga menyediakan jasa digital marketing.

Ia mengenang masa itu sebagai periode jatuh bangun yang membentuk pola pikir positifnya. “Dalam 10 tahun pertama, usaha kami kerap tiarap. Pengalaman menimba ilmu ke Jepang, menyemangati saya berpikir positif dalam merealisasikan mimpi. Saya coba juga kerja dari rumah, sarungan doang, bantu pasarkan bisnis orang lain seperti properti hingga paket wisata ke luar negeri. Cuan dapat, bisa ajak istri pelesir ke luar negeri,” buka Cheriatna. 

‎Menjadi marketing di sebuah agen travel, mengasyikkan. Namun pada 2010, kerja sama terhenti. Hal ini melecut pasutri ini membangun usaha travel sendiri.

‎“Hikmahnya, setelah itu banyak yang ingin pakai jasa kami,” sambungnya. 

Dari titik ini, lahirlah Cheria Holiday, pelopor wisata halal yang dikenal sejak 2012, dibangun dengan prinsip dakwah, ketangguhan, dan jiwa kewirausahaan.

‎Lahirnya Visi Wisata Halal

Cheriatna dan Farida merintis bisnis wisata dengan visi perjalanan halal yang nyaman untuk Muslim. Filosofi nama Cheria yang identik dengan keceriaan menginspirasi semangat membawa kebahagiaan bagi para pelancong.

‎“Cheria Holiday ibarat sarana berdakwah. Saya ingin memberikan solusi agar umat Muslim dapat menikmati perjalanan global mulai dari Asia, Amerika, Australia, hingga Eropa dengan sajian di berbagai restoran halal, waktu salat yang tetap terjaga, dan segala akomodasi sesuai syariat,” papar Ketua Umum Asosiasi Travel Halal Indonesia (ATHIN).

Tanpa Sekolah Formal untuk Seluruh Anak

Selama satu dekade pertama, Pasutri yang menikah pada 10 April 1999 ini sepakat membangun fondasi rumah tangga yang kuat, terutama dalam pendidikan. Mereka memilih tidak membeli televisi demi menjaga interaksi keluarga. Semua anak tidak bersekolah reguler, mereka menerima pendidikan nonformal seperti kelompok belajar dan PAUD.

‎“Saya belajar dari pengalaman karena kenyang dengan segudang kegiatan akademik. Saya kuliah dengan 3 gelar S1 berbeda. Saya pernah jadi asisten dosen dan dapat beasiswa S2 manajemen bisnis di sebuah universitas negeri di Solo. Namun, suami menyarankan saya fokus mengurus anak-anak yang kelak mampu membantu bisnis keluarga," jelas Farida.

Farida merasakan ketidaksesuaian pendidikan formal dengan kehidupan bisnisnya.

“Saya merasa banyak waktu terbuang ketika belajar hingga pendidikan tinggi. Banyak sarjana yang lulus dengan nilai tinggi tapi pekerjaannya tidak berbanding lurus dengan ilmu di kampus. Saya putuskan mendidik anak sesuai kebutuhan dan keahlian mereka. Kalau bisa di usia 12, orangtua sudah punya formula mau arahkan anak ke mana. Jadi saya pandu anak belajar berbisnis dan kelak bisa membuka lapangan kerja untuk banyak orang," tambahnya.

‎Keceriaan dan Kegetiran 14 Kehamilan

‎Konsep banyak anak banyak rezeki, jadi acuan Farida jaga keharmonisan cinta.

‎"Gas aja, meski hati galau. Saya pernah overthinking jika punya anak banyak, gimana mengurusnya. Apalagi saya getol banget menimba ilmu. Pagi kuliah jurusan Sastra Indonesia, siang lanjut kuliah Sastra Jepang, dan malam saya masih kuliah Sastra Arab,” urai Farida. 

‎Ia terisak mengenang kisah mellow saat buah cinta pertamanya, meninggal dunia. 

‎“Tahun pertama menikah, Alloh langsung kasih rezeki. Berhubung saya terlalu sibuk di kampus, jadi enggak sadar lagi hamil. Saya banyak melayani jasa pembuatan skripsi. Saking capeknya, saya sakit tifus. Begitu diperiksa dokter, usia kehamilan saya memasuki bulan keenam. Saya dianjurkan bed rest karena janin lemah. Saya sempat lihat anak kami lahir. Dia tidak nangis. Namun belum satu jam, bayi kami meninggal,” isak Farida.

‎Meski telah tiada, pasutri ini tak lupa menyematkan nama untuk putranya, Abdul Rohman. Pasca kejadian, Farida terus dihantui rasa bersalah. Ia janji lebih telaten jika kembali dikaruniai keturunan. Tak lama Tuhan memberi penggantinya, bayi perempuan cantik bernama Chefa.

‎Kehadiran Farhah Chefa Qonita pada 10 Agustus 2000, membuat keseharian pasutri ini lebih berwarna. Getol mau terus memiliki anak, tak terasa 'pasukan' Farida dan Cheriatna terus bertambah. 

‎Di antaranya Rabitha Chefa Karima (22 Mei 2003), Refah Shofi Salima (14 Agustus 2005), Zaka Fathie Cheriatna (29 April 2007), Radja Kholis Cheriatna (9 April 2009), Ridho Hasan Cheriatna (23 November 2010), Muthiah Chefa Jamila (30 Agustus 2012), Ibrahim Sholeh Cheriatna (5 Desember 2013), Fatimah Laila Cheriatna (18 September 2015), Maryam Qurrota A'yun (14 Agustus 2017), dan Asma Ummu Syahida (10 Juni 2023).

‎“Hadirnya Asma kayak kado terindah di usia pernikahan perak. Setiap anak selisih 2 tahun. Setelah Maryam, saya pikir sudah kelar produksi. Alhamdulillah Alloh kasih amanah lagi,” jelas Farida. 

Namun kebahagiaan itu diiringi duka tiga anak telah wafat, satu saat lahir dan dua karena keguguran.  

‎“Kalau ditotal, saya telah 14 kali hamil. Sebelas anak lahir via persalinan normal, satu meninggal pas lahir, dan dua anak tak sempat keluar karena keguguran. Momen haru pertama, saat kandungan dua bulan. Keguguran satunya, saat hamil tiga bulan," ucap Farida terbata..

‎Tujuh Pilar Kehangatan Cheria Holiday

Kesuksesan Cheria Holiday tak terlepas dari peran anak-anak yang sejak remaja ditempa menjadi wirausaha. Tujuh anak kini menjadi pilar bisnis keluarga: perancang produk tur, konsultan, pengelola finansial, hingga content creator.

“Chefa fokus di B2B, Rabitha urus produk tur, Refah piawai di finance, Zaka mahir sebagai konsultan tur. Radja, Ridho, dan Muthiah jadi content creator sosmed,” jelas Cheriatna. Nilai kerja keras dan dakwah menjadi warisan bisnis keluarga ini, sebagaimana ditutup dalam bukunya "Keluarga Traveler: Keliling Dunia Hasil Kerja Sarungan".