INDUSTRY.co.id - Jakarta — Di tengah melonjaknya konsumsi informasi digital, hoaks kesehatan semakin mudah tersebar, termasuk terkait kanker leher rahim dan imunisasi HPV.
Menjawab tantangan tersebut, MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) kembali menggelar program edukasi bagi jurnalis, bertepatan dengan peringatan World Cervical Cancer Elimination Day.
Tahun ini, kegiatan yang telah berlangsung empat kali berturut-turut tersebut mengusung tema “Lawan Misinformasi Kanker Leher Rahim di Era AI”.
Acara dibuka oleh Staf Khusus Menteri Kesehatan RI, drg. Monica R. Nirmala, MPH, dan menghadirkan para pemangku kepentingan lintas sektor, termasuk Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan serta External Affairs Director MSD Indonesia Dudit Triyanto.
Sesi edukasi juga menghadirkan sejumlah ahli dari Kemenkes, tenaga medis spesialis, hingga perwakilan Badan Komunikasi Pemerintah RI.
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, MKM, menegaskan pentingnya distribusi informasi yang benar dalam upaya menekan kasus kanker leher rahim di Indonesia.
“Kanker leher rahim adalah penyakit yang dapat dicegah. Imunisasi HPV bukan hanya penting untuk anak perempuan, tetapi juga bagi anak laki-laki sebagai perlindungan komprehensif. Pemerintah berkomitmen memperluas cakupan imunisasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Anak, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, menjelaskan bahwa infeksi HPV sering tidak menimbulkan gejala dalam jangka panjang, tetapi berisiko berkembang menjadi kanker.
“HPV menyebabkan sekitar 71% kanker leher rahim. Virus ini juga memicu kanker vagina, vulva, penis, orofaring, dan 90% kasus kutil kelamin. Kabar baiknya, semua risiko itu dapat dicegah melalui imunisasi HPV, yang sudah terbukti aman sejak 2006 dan digunakan di lebih dari 130 negara,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat lebih kritis dalam mencerna informasi kesehatan. “Jangan terjebak mitos atau hoaks. Keputusan yang kita ambil hari ini menentukan kesehatan anak dan generasi masa depan.”
Survei Katadata Insight Center menunjukkan 64,7% masyarakat menggunakan AI untuk mencari informasi dan 70% mempercayai konten yang dihasilkan AI. Kondisi ini menunjukkan bahwa AI berpotensi menjadi alat edukasi yang kuat, tetapi akurasi tetap menjadi tantangan.
Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah BKP RI, Noudhy Valdryno, menekankan peran kolaborasi lintas sektor.
“Pemerintah berkomitmen melawan hoaks secara kolaboratif bersama media, akademisi, dan mitra strategis seperti MSD Indonesia. Satu informasi keliru dapat berdampak luas, terutama pada keputusan kesehatan keluarga.”
Country Medical Lead MSD Indonesia, dr. Amrilmaen Badawi, MBiomedSc, mengajak masyarakat lebih aktif memastikan kredibilitas informasi kesehatan.
“Teknologi dan AI membuka peluang besar, tetapi akurasi informasi tetap menjadi tanggung jawab kita semua. Periksa sumber, cek kredibilitas, konsultasikan pada tenaga kesehatan, dan jangan sebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.”
Ia menegaskan komitmen MSD Indonesia untuk terus mendukung edukasi masyarakat serta menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan bebas hoaks, terutama terkait pencegahan kanker leher rahim.