INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pada perdagangan Selasa (22/8/2017), diperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak mixed pada perdagangan selanjutnya dengan rentang 5850-5910.
Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan dengan rentang tersebut, makan saham-saham yang masih dapat diperhatikan diantaranya PGAS, BJBR, PTPP, MNCN, TINS, TOTL.
"IHSG melakukan pengujian support MA5 setelah tidak mampu break out resistance terdekat dan upper bollinger bands. Indikator stocastick pun jenuh beli dengan pola dead-cross sebagai signalnya. Indikator RSI tertekan menghampiri 14days of momentum sebagai support terdekat," kata dia di Jakarta, Selasa (22/8/2017).
Pada penutupan perdagangan Senin (21/8/2017), IHSG (-0.56%) mengalami pelemahan terdalam di Asia dengan ditutup -32.84 poin sebesar 5861.01 setelah mengalami pergerakan optimis pekan lalu. Spekulasi penjualan mobil dan prospek suku bunga menjadi salah satu faktor.
Selain itu, lanjut dia, aksi profit taking pada sektor konsumer (-2.35%) menjadi penekan IHSG dengan saham HMSP (-4.02%) dan UNVR (-2.33%) meskipun indeks sektor keuangan (+0.51%) dan Property (+0.15%) menguat menjadi penyeimbang laju koreksi sektor konsumer.
Investor asing pada pasar reguler tercatat net buy 57.52 Miliar rupiah sedangkan pada pasar negosiasi terjadi net sell sebesar 1.58 Triliun rupiah. Sehingga total keseluruhan pasar pada hari ini net sell 1.52 Triliun rupiah angka yang cukup besar pada bulan Agustus 2017.
Ia bilang, diawal pekan mayoritas indeks saham ditutup bervariasi dengan tekanan aksi jual terlihat besar pada IHSG (-0.56%) dan Nikkei (-0.40%) sedangkan penguatan masih dirasakan oleh indeks saham Hangseng (+0.40%) dan CSI300 (+0.44%). Greenback, Emas, Obligasi dan Yen menguat ditengah meningkatnya minat terhadap aset haven ditengah gejolak geopolitik sejak pekan sebelumnya.
Selain itu, bursa saham Eropa dibuka pesimis seperti EuroStoxx50 (-0.36%), FTSE (-0.16%) dan DAX (-0.36%) melemah. Beberapa data kinerja perbankkan akan rilis ditengah kegelisahan yang berkembang tentang Inflasi rendah yang tidak menemukan titik cerah. Data sentimen ekonomi selanjutnya yang akan diperhatikan investor dalam negeri diantaranya tingkat penjualan mobil, keputusan suku bunga di Indonesia.