INDUSTRY.co.id - Jakarta – Genap satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sektor industri nasional mencatatkan kinerja yang solid di tengah tantangan geoekonomi dan geopolitik global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Triwulan III-2025, industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh 5,58 persen (year-on-year), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen.
Sektor IPNM menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar terhadap perekonomian dengan kontribusi 1,04 persen, serta menyumbang 17,39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, sektor ini juga menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja dan berkontribusi 37,73 persen terhadap total investasi nasional.
“Capaian ini menunjukkan fondasi industri nasional yang semakin kokoh. Sektor manufaktur Indonesia tumbuh di atas rata-rata global dan menjadi tulang punggung utama ekonomi kita,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta (5/11).
Beberapa subsektor yang mencatat kinerja kuat di antaranya, industri logam dasar dengan pertumbuhan 18,62 persen, industri mesin dan perlengkapan (11,74 persen), serta industri makanan dan minuman (6,49 persen).
Sementara itu, beberapa subsektor masih menghadapi tekanan, seperti industri kayu dan furnitur yang masing-masing terkontraksi 9,6 persen dan 4,34 persen.
Laporan World Bank menempatkan Indonesia sebagai negara ke-13 dengan nilai Manufacturing Value Added (MVA) terbesar di dunia, yaitu mencapai USD 265 miliar, dan peringkat pertama di ASEAN, melampaui Thailand dan Vietnam. Peringkat ini menegaskan kekuatan struktur industri nasional yang semakin terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Struktur industri kita kini semakin kuat, dan tantangan ke depan adalah memastikan daya saing berkelanjutan melalui efisiensi, inovasi, serta peningkatan kualitas SDM,” tambahnya.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian juga meluncurkan tujuh kebijakan unggulan sepanjang satu tahun terakhir, di antaranya reformasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penguatan ekosistem industri halal, percepatan Transformasi Digital Industri 4.0, serta dukungan pembiayaan Kredit Industri Padat Karya (KIPK).
Khusus pada sektor industri halal, Indonesia kini menempati posisi ke-3 dunia berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/25, dengan performa unggul pada subsektor modest fashion, farmasi dan kosmetik halal, serta makanan halal.
Momentum kebangkitan industri nasional ini juga tercermin dalam penyelenggaraan Cosmetic Day 2025. Acara yang digagas oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) itu menjadi ajang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan asosiasi kosmetik nasional.
Nilai pasar industri kosmetik Indonesia pada tahun 2024 mencapai USD 9,2 miliar, dengan 1.500 pelaku usaha aktif, dan 87 persen di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM).
“Industri kosmetik adalah contoh nyata inklusivitas dan kreativitas anak bangsa. Tren halal, aman, dan berkelanjutan membuka peluang besar menjadikan Indonesia pusat kosmetik halal dunia,” ujar Agus.
Pemerintah juga menyiapkan kebijakan wajib sertifikasi halal mulai tahun 2026 untuk memperkuat kepercayaan pasar global terhadap produk kosmetik Indonesia.
Dua kegiatan besar, yaitu Pameran Program Unggulan Industri Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran dan Cosmetic Day 2025, menjadi simbol sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam mewujudkan ekonomi mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
“Dengan semangat kebangkitan industri nasional, kami optimistis Indonesia akan menjadi kekuatan manufaktur utama di Asia,” pungkasnya.