INDUSTRY.co.id - Jakarta — Permata Bank kembali menggelar acara tahunan Wealth Wisdom 2025 di Jakarta dengan tema besar “Resilience in Growth, Stronger Foundation.” 

Dalam sesi Wealth Class, sejumlah tokoh penting hadir membagikan pandangan mereka tentang dinamika ekonomi global dan strategi membangun ketahanan finansial di tengah ketidakpastian dunia.

Tiga pembicara utama dalam sesi ini ialah Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta periode 2014–2017; Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank; dan Arief Wana, Managing Partner PT Ashmore Asset Management Indonesia. 

Mereka sepakat bahwa resiliensi ekonomi Indonesia bergantung pada kombinasi strategi kebijakan, ketahanan masyarakat, dan disiplin dalam pengelolaan kekayaan.

Dalam paparannya, Josua Pardede menjelaskan bahwa meski dunia tengah menghadapi ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global, Indonesia masih menunjukkan kinerja positif.

“Di tengah volatilitas ekonomi dan geopolitik global, dampak terhadap Indonesia relatif terbatas. Hal ini karena sekitar 55% dari PDB Indonesia berasal dari konsumsi rumah tangga, dan tingkat kesamaan perdagangan dengan Amerika Serikat relatif rendah,” ungkap Josua.

Josua menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 masih diproyeksikan stabil di kisaran 5%, dengan inflasi terkendali dan peluang penurunan suku bunga Bank Indonesia yang terbuka pada paruh kedua tahun ini.

Ia juga mengingatkan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi. “Investor di Indonesia perlu menjaga keseimbangan portofolio dengan mengombinasikan aset berisiko dan aset aman. Diversifikasi menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan menjaga potensi imbal hasil,” tambahnya.

Sementara itu, Basuki Tjahaja Purnama menyoroti kesamaan prinsip antara mengelola bisnis dan mengelola anggaran negara.

“Dalam situasi ekonomi yang sulit, baik pelaku usaha maupun pemerintah harus melakukan optimalisasi biaya dan mencari sumber pendapatan baru,” ujar Basuki.

Ia menegaskan bahwa kekuatan terbesar Indonesia terletak pada rasa kekeluargaan masyarakatnya.

“Merasa tidak sendirian ketika menghadapi tantangan adalah bentuk nyata dari resiliensi. SDM Indonesia sering menanamkan nilai kekeluargaan dalam dunia kerja, dan ini menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain,” tegas Basuki.

Dalam kesempatan yang sama, Arief Wana menjelaskan bahwa minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi terus meningkat, meski arus investasi asing ke Indonesia masih menunjukkan tren net outflow sepanjang Januari–September 2025.

Menurut Arief, hal ini terjadi karena investor asing mulai melirik pasar lain seperti Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan yang memiliki industri teknologi lebih maju.

“Untuk memastikan pertumbuhan portofolio yang berkelanjutan, investor harus memahami jenis dan ukuran risiko dari setiap aset. Jangan berinvestasi hanya karena mengikuti tren. Miliki prinsip dan manajemen risiko yang matang,” jelas Arief.

Selain menghadirkan para ekonom, Wealth Wisdom 2025 juga menghadirkan berbagai narasumber lintas bidang seperti Airlangga Hartarto, Prof. Rhenald Kasali, Prof. Eka J. Wahjoepramono, Shinta Kamdani, Andy F. Noya, Stephanie Gunadi, Adrianto Djokosoetono, dan Raymond Chin.

Acara ini menjadi wadah inspiratif yang membahas keseimbangan antara finansial, kesehatan, dan pendidikan** sebagai pilar kesejahteraan masyarakat modern.

Sejak pertama kali digelar pada 2014, Permata Bank Wealth Wisdom telah berkembang menjadi platform interaktif untuk belajar, berbagi inspirasi, dan memperluas wawasan demi masa depan finansial yang lebih kuat.