INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indonesia kembali membuktikan dirinya sebagai raja pangan dunia, terutama di sektor kelapa sawit. 

Dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono (Mas Dar) dengan Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Tiongkok, Maierdan Mugaiti, pihak Tiongkok secara khusus meminta jaminan suplai jangka panjang crude palm oil (CPO) dari Indonesia.

“Tiongkok meminta kepastian pasokan CPO untuk jangka panjang. Mereka melihat kebutuhan minyak sawit di negaranya terus meningkat, sementara Indonesia adalah produsen terbesar di dunia,” ujar Wamentan Sudaryono usai pertemuan di kantor pusat Kementan, Jakarta, Selasa (30/9).

Selain CPO, Tiongkok juga melirik karet alam, sarang burung walet, hingga hortikultura unggulan seperti durian. Permintaan ini, kata Mas Dar, menjadi bukti nyata pengakuan dunia terhadap dominasi sawit Indonesia sebagai komoditas strategis global.

Data perdagangan menunjukkan, pada tahun 2024 Indonesia mencatat surplus perdagangan pertanian dengan Tiongkok sebesar USD 1,77 miliar. Komoditas andalan ekspor Indonesia antara lain; Kelapa sawit: USD 2,72 miliar, Sarang burung walet: USD 428 juta, Karet: USD 363 juta, Kelapa: USD 270 juta, Kakao: USD 218 juta.

Tak hanya perdagangan, kedua negara juga menjajaki kerja sama riset pertanian, termasuk pengembangan varietas padi unggul untuk lahan rawa dan pesisir berair payau.

Mas Dar menegaskan, pemerintah Indonesia tidak hanya membuka pintu diplomasi, tetapi juga mendorong agar “pipa-pipa” business-to-business berjalan lebih efisien. Salah satunya dengan akses pasar langsung ke Tiongkok tanpa harus lewat negara ketiga.

“Indonesia ingin kerja sama dengan siapa pun selama itu menguntungkan kepentingan nasional: produksi meningkat, impor berkurang, ekspor naik, devisa bertambah, dan petani sejahtera,” tegasnya.