INDUSTRY.co.id, Jakarta-Emiten perusahaan pembiayaan, PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA), membukukan laba bersih sebesar Rp 2,80 miliar hingga Semester 1 – 2025, setelah mencatatkan rugi sebesar Rp43 miliar pada akhir tahun 2024.
Kerugian yang dicatatkan HDFA pada akhir tahun 2024 terutama dipengaruhi pembebanan Aset Pajak Tangguhan sebesar Rp43.9 miliar yang merupakan penyesuaian signifikan di neraca HDFA per akhir 2023. Sebagai tinjauan, Aset Pajak Tangguhan ini timbul atas posisi rugi HDFA yang terjadi dan terakumulasi dari tahun-tahun sebelumnya hingga tahun 2020.
Dengan telah dibebankannya Aset Pajak Tangguhan besar ini, maka besaran Aset Pajak Tangguhan di neraca HDFA adalah hasil dari penyesuaian fiskal atas transaksi di tahun berjalan saja.
Laba bersih di atas terbentuk atas implementasi rencana bisnis 2025 yang mengutamakan pembiayaan investasi alat berat & truk melalui produk Asset-based Financing (ABF) dan pembiayaan modal kerja sebagai produk pembiayaan pendamping. 2025 merupakan tahun ke-5 sejak HDFA memfokuskan diri kepada pembiayaan produktif dan tren pembiayaan yang dilakukan terus menunjukkan peningkatan.
Hingga Semester 1 – 2025, HDFA telah melakukan pembiayaan sejumlah Rp2.8 triliun kepada para nasabahnya, peningkatan 15% y-o-y dari pencapaian Semester 1 – 2024.
Segmen usaha di industri terkait sumberdaya alam, yaitu pertambangan dan perkebunan, mewakili hampir 60% dari portofolio pembiayaan HDFA. Segmen usaha selanjutnya yang menikmati dukungan pembiayaan dari HDFA adalah Logistik (transportasi & pergudangan) dan Konstruksi.
Segmen-segmen usaha ini sejalan dengan penyumbang kegiatan ekonomi yang signfikan untuk Indonesia di mana sebagai negara dengan sumberdaya pertambangan untuk energi & mineral dan perkebunan, Indonesia adalah eksportir unggulan untuk batubara, timah, nikel, emas, tembaga & kelapa sawit.
Melihat akan potensi pertumbuhan kebutuhan investasi untuk alat berat & truk di Indonesia, baik untuk peningkatan kapasitas maupun untuk peremajaan armada, maka HDFA telah menempatkan perwakilan di Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, Surabaya & Palembang untuk dapat melakukan komunikasi dan meningkatkan hubungan baik dengan para nasabah dan mitra terkait agar HDFA dapat memberikan solusi keuangan dengan cepat dan baik. Telah direncanakan juga untuk penambahan perwakilan di beberapa kota tambahan. HDFA meyakini terdapat potensi pertumbuhan signifikan, khususnya dari pelaku UKM dan wirastawan di daerah yang berada dalam value chain segmen- segmen usaha yang juga akan bertumbuh sejalan dengan ekosistem yang berkembang.
“Hingga Semester 1 - 2025, tingkat NPF-gross untuk portfolio produktif terjaga pada angka di bawah 3%. Hal ini membuat angka NPF-nett keseluruhan terjaga di angka 1.80% pada Semester 1 - 2025” menurut Elquino Simanjuntak, Chief Finance Officer & Corporate Secretary HDFA.
Dari sisi posisi keuangan, Perseroan mencatatkan kenaikan pada total aset sebesar 18% (yoy) menjadi Rp3.599 miliar dari posisi yang sama sebelumnya sebesar Rp3.056 milyar. Piutang pembiayaan juga mengalami kenaikan menjadi Rp3.160 miliar dari posisi sebesar Rp2.528 miliar di Juni 2024. Liabilitas pada Semester 1 - 2025 tercatat mengalami kenaikan sebesar 24% (yoy) menjadi Rp3.023 miliar dari Rp2.430 miliar di Juni 2024.
HDFA beraspirasi untuk membukukan pembiayaan sebesar Rp7.5 triliun pada tahun 2025. Untuk mencapai target pembiayaan tersebut, Perseroan akan terus memperkuat 2 produk utama pembiayaan produktif yang saat ini dimiliki yaitu Asset-based Financing (ABF - pembiayaan investasi berbasis aset) dan pembiayaan modal kerja sebagai pendamping dari ABF.
Sebagai mitra dari perbankan untuk menjangkau dan mendukung pelaku usaha di Indonesia, HDFA terus menjaga dan mengembangkan hubungan baik & kemitraan dengan perbankan, nasional & internasional. Dengan program pembiayaan yang menyasar kepada segmen-segmen usaha di industri andalan di Indonesia, HDFA menjadi mitra kerja strategis bagi perbankan untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam menumbuhkan ekonomi Indonesia dan berkontribusi kepada pertumbuhan kredit mereka.