INDUSTRY.co.id - Jakarta — Investasi besar-besaran pada teknologi di sektor logistik tidak akan berdampak signifikan jika tidak disertai dengan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini disampaikan oleh pakar logistik dan transformasi digital, Siswadhi Pranoto Loe, dalam diskusi nasional bertema Human Capital in Smart Logistics.
“Kami percaya bahwa teknologi hanyalah alat. Tanpa SDM yang cakap dan visioner, teknologi akan sia-sia. Karena itu, pelatihan digital bagi tenaga logistik harus menjadi prioritas nasional,” ujar Siswadhi di Jakarta.
Menurutnya, tren otomatisasi dan digitalisasi logistik saat ini sudah tidak terhindarkan. Perusahaan-perusahaan besar mulai mengadopsi sistem seperti AI untuk perencanaan rute, Internet of Things (IoT) untuk pelacakan, hingga robot warehouse untuk efisiensi pengemasan dan distribusi. Namun di balik kemajuan itu, Siswadhi melihat ancaman yang cukup serius: kesenjangan keterampilan digital antara teknologi dan operator di lapangan.
Data dari World Economic Forum menunjukkan bahwa pada 2025, 50% pekerjaan akan membutuhkan keterampilan digital menengah hingga tinggi. Di Indonesia, sektor logistik yang menyerap lebih dari 3 juta tenaga kerja, sebagian besar masih mengandalkan metode manual dan minim pelatihan formal dalam teknologi logistik.
“Banyak operator gudang yang bahkan belum terbiasa menggunakan dashboard digital atau sistem tracking berbasis cloud. Ini menyulitkan perusahaan untuk menjalankan transformasi secara utuh,” jelasnya.
Siswadhi mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk tidak hanya fokus pada pembelian teknologi, tetapi juga pada program upskilling dan reskilling. Ia mencontohkan perlunya pelatihan berbasis modul teknologi logistik, kolaborasi dengan SMK dan politeknik logistik, hingga insentif pelatihan bagi pekerja yang mau beradaptasi.
“Transformasi digital tidak boleh hanya jadi proyek jangka pendek. Ini harus disiapkan sebagai sistem pendidikan jangka panjang, termasuk melalui sertifikasi nasional yang terstandar,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa SDM yang diberdayakan dengan teknologi akan menjadi keunggulan kompetitif baru Indonesia di sektor logistik ASEAN. “Teknologi bisa dibeli, tapi SDM andal harus dibangun. Di sinilah kita harus fokus,” pungkas Siswadhi Pranoto Loe.