INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri kelapa sawit dalam negeri sudah ekspor ke beberapa negara. Memang ada sedikit kendala dalam ekspor kelapa sawit, namun hal tersebut sedang kami proses. Kendala-kendala ekspor kelapa sawit harus segera diatasi karena industri kelapa sawit kita salah satu yang terbesar di dunia.

Advertisement

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan dari Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Mahendra Siregar di Kantor kementerian Perindustrian, Jakarta (14/8/2017).

Seperti diketahui, Uni Eropa baru-baru ini mengeluarkan resolusi Parlemen Uni Eropa terkait dengan sertifikasi produk sawit dan pelarangan biodiesel berbasis sawit. Mereka menganggap bahwa, penanaman sawit dan perluasan lahannya, akan merusak lahan itu sendiri. Padahal, Indonesia telah memiliki ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil), dan juga standar yang sama dengan Malaysia ‎melalui Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Advertisement

Untuk diketahui, Indonesia dan Malaysia tergabung dengan CPOPC guna memperkuat kerjasama antar sesama negara produsen sawit sekaligus memperkuat dan mengembangkan industri sawit.

Indonesia dan Malaysia sepakat untuk bersama-sama menentang resolusi Uni Eropa mengenai larangan perdagangan biodiesel berbasis sawit. Kedua negara yang bertetangga tersebut berencana untuk membawa kasus itu ke Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO).

Advertisement

Kedua negara menganggap, resolusi Uni Eropa serta praktek pelabelan yang tidak adil oleh sektor swasta akan berdampak negatif, tidak hanya pada ekspor minyak sawit dari Malaysia dan Indonesia ke pasar Uni Eropa, namun juga pada mata pencaharian dari jutaan petani kecil.

Lebih lanjut Airlangga mengatakan, pemerintah Indonesia juga tengah giat berdiskusi memetakan standar dan keberlanjutan program pengembangan industri kelapa sawit. Sekaligus perluasan industri hijau antara kedua negara dalam CPOPC.

Advertisement

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, Indonesia merupakan produsen minyak sawit nomor satu di dunia. Bahkan, nilai ekspor minyak sawit mentah dan turunannya mencapai US$ 20 miliar. "Industri perkelapasawitan merupakan salah satu sektor yang berkontribusi dan berpotensi besar dalam pembangunan nasional," imbuh Airlangga.

Potensi itu antara lain melalui penyerapan tenaga kerja, penciptaan nilai tambah, sumber pendapatan negara, perolehan devisa ekspor, dan menyumbang pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. "Di samping itu, sektor industri perkelapasawitan berperan dalam pemerataan pembangunan dan kedaulatan ekonomi bangsa, khususnya bagi daerah luar Jawa, daerah terpencil, dan wilayah perbatasan negara," pungkasnya.