INDUSTRY.co.id - Jakarta – Dalam upaya meningkatkan daya saing tenaga kesehatan Indonesia di kancah global, Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (Ditjen SDM Kesehatan) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan Binawan. 

Advertisement

Kolaborasi Kemenkes dan Binawan ini bertujuan untuk membuka peluang bagi mahasiswa dan alumni Poltekkes Kemenkes agar dapat berkarier di luar negeri.

Saat ini, kebutuhan tenaga kesehatan dunia, khususnya perawat dan bidan, mencapai angka yang signifikan. WHO mencatat bahwa global membutuhkan 6 juta tenaga kesehatan, sementara International Council of Nurses memproyeksikan kebutuhan mencapai 13 juta perawat pada tahun 2030. Ironisnya, Indonesia justru mengalami kelebihan tenaga perawat yang diperkirakan mencapai 695.217 lulusan pada 2025.

Advertisement

Sebagai langkah konkret, Binawan Foundation memberikan program beasiswa pelatihan kerja ke Eropa dengan kuota 400 mahasiswa tingkat akhir dan alumni dari 38 Poltekkes Kemenkes. Langkah ini diharapkan dapat membekali tenaga kesehatan Indonesia dengan kompetensi berstandar internasional sehingga lebih siap bersaing di pasar tenaga kerja global.

Penandatanganan kerja sama ini disaksikan oleh Dirjen SDM Kesehatan Kemenkes RI, dr. Yuli Farianti, M.Epid, serta Ketua Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), drg. Arianti Anaya, MKM. 

Advertisement

Dalam sambutannya, Arianti Anaya menekankan pentingnya kerja sama ini tidak hanya untuk mahasiswa Poltekkes, tetapi juga bagi tenaga kesehatan lainnya yang ingin bekerja di luar negeri. Ia juga menyoroti perlunya kebijakan yang memungkinkan tenaga kesehatan tetap bisa mengikuti pelatihan daring guna mengumpulkan SKP sebagai syarat perpanjangan izin praktik saat kembali ke Indonesia.

Chairman Binawan Foundation, Said Saleh Alwaini, menyatakan kesiapannya dalam mendukung target Kemenkes untuk menempatkan 2.000 lulusan ke luar negeri. 

Advertisement

“Kami tidak hanya membantu dalam penempatan kerja, tetapi juga menyusun kurikulum, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, dan membangun sistem pendidikan serta pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan negara tujuan,” ujar Said.

Binawan, yang telah berpengalaman selama 48 tahun dalam penyediaan dan penempatan tenaga kesehatan di berbagai negara, berkomitmen membangun ekosistem yang mendukung tenaga kesehatan Indonesia. Program yang mereka tawarkan meliputi pendidikan, pelatihan, persiapan kerja, penempatan tenaga kesehatan, serta program repatriasi bagi mereka yang ingin kembali ke tanah air.

Dalam kesempatan ini, dr. Yuli Farianti menegaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berfokus pada penempatan tenaga kerja, tetapi juga penguatan dari segi pendidikan dan pelatihan. 

“Kami ingin memastikan bahwa lulusan Poltekkes memiliki kompetensi yang diakui secara internasional melalui pengembangan kurikulum, peningkatan keterampilan, dan penguatan jaringan alumni,” ungkapnya.

Dengan adanya kerja sama antara Ditjen SDM Kesehatan dan Yayasan Binawan, diharapkan lebih banyak tenaga kesehatan Indonesia yang dapat bersaing di pasar kerja internasional. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat kredibilitas tenaga kesehatan Indonesia di mata dunia, sekaligus membuka peluang karier lebih luas bagi para perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya.