INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pengamat pasar modal memberikan peringatan kepada investor terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang polanya kecendrungan tidak lagi uptren. Itu tercermin pada penutupan Kamis (3/8) yang tertekan cukup dalam -43.67 poin sebesar -0.75% dilevel 5780.58.

"Ini merupakan signal yang negatif pada pergerakan IHSG karena cenderung melemah karna riwayat IHSG 52 minggu terakhir kisaran 4,754 - 5,910," kata analis Danareksa Lucy Bayu Purnomo  di Jakarta, Jumat (4/8/2017).

Pada penutupan perdagangan Kamis (3/8),  tertekan cukup dalam -43.67 poin sebesar -0.75% dilevel 5780.58 seiring aksi ambil untung terlihat pada sektor pertambangan yang membebani IHSG turun -2.5% dengan penurunan saham ADRO (-2.64%) dan ITMG (-1.92%).

Minimnya katalis positif dalam negeri membuat investor enggan berprilaku agresif meskipun pergerakan IHSG tertinggal dan cenderung konsolidasi akhir-akhir ini. Aliran dana investor asing pun kian melebar dimana pada perdagangan hari ini tercatat net sell 305.06 Miliar rupiah.

Bursa saham di Asia seperti Nikkei (-0.25%), Topix (-0.03%), HangSeng (-0.28%), CSI300 (-0.88%), Kospi (-1.68%) dan IHSG (-0.75%) mayoritas ditutup tertekan seiring pelemahan saham global dari level tertinggi yang diwarnai aksi profit taking. Indeks saham korea selatan anjlok paling dalam sejak november tahun lalu dalam rencana pemerintah untuk menaikan pajak perusahaan besar. Indeks outlook kinerja sektor jasa di Tiongkok berkontraksi dengan ekspektasi dirilis turun 51.5 dari 51.6 dengan ekspektasi naik 51.9.

Oleh karena itu, lanjut dia, IHSG  cenderung melemah untuk menguji level pada kisaran 5.750 hingga 5.730."Potensi tersebut disertai dengan rata rata transaksi yang terdapat pada Indeks Harga Saham Gabungan telah berada dalam teritori overbought atau jenuh beli dengan trend mengalami koreksi jangka pendek," pungkas dia.