INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) hingga akhir Juni 2017 menyalurkan kredit bernilai Rp687,9 triliun, atau lebih tinggi 11,8% dibandingkan posisi hingga akhir Juni 2016 sebesar Rp615,5 triliun.
“Sekitar 74,4% dari total portofolio kredit BRI per Juni 2017 tersebut, atau sekitar Rp490 triliun, disalurkan ke sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),” ujar Suprajarto, Direktur Utama BRI dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (03/08/2017).
Suprajarto mengemukakan, ekspansi penyaluran kredit Bank BRI tersebut ditopang oleh peningkatan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sekitar 12,3% menjadi Rp768 triliun hingga akhir Juni 2017 dibandingkan posisi di akhir Juni 2016 sebesar Rp693,7 triliun.
“Sekitar 56,09% dari total DPK tersebut atau sekitar Rp430,77 triliun, berasal dari dana murah berupa giro dan tabungan,” imbuh Suprajarto.
Suprajarto mengungkapkan, rasio kredit bermasalah (non-perfoming loan/NPL) Bank BRI hingga akhir semester pertama 2017 tercatat sebesar 2,34% atau lebih rendah dibandingkan NPL hingga akhir semester pertama 2016 sebesar 2,39%. Jika dinilai secara rupiah, maka besarnya NPL BRI per Juni 2017 tercatat sebesar Rp16,09 triliun atau lebih besar dibandingkan per Juni 2017 sebesar Rp14,71 triliun.
“Karena itu, manajemen BRI menaikkan rasio cadangan untuk mengantisipasi kredit bermasalah dari sebelumnya sebesar 150,7% menjadi 196,4%,” tukas Suprajarto.
Suprajarto juga menjelaskan, peningkatan penyaluran kredit tersebut mengakibatkan pendapatan bunga bersih BRI per Juni 2017 tumbuh 12,4% menjadi Rp36,3 triliun dibandingkan per Juni 2016. Disamping itu, BRI juga memperoleh pendapatan berbasis komisi sebesar Rp49 triliun, atau lebih tinggi 19% dibandingkan per Juni 2016. (Abraham Sihombing)