INDUSTRY.co.id - PTPN III (Persero) Holding menargetkan pendapatan perusahaan pada tahun 2017 mencapai sekitar Rp46 triliun, tumbuh 6,94 persen dibanding pendapatan 2016 yang diperkirakan mencapai Rp34,6 triliun.
"Pertumbuhan pendapatan 2017 mengindikasikan program transformasi bisnis perseroan mulai menunjukkan hasil," kata Direktur Utama PTPN III Holding Elia Massa Manik, di Jakarta.
Menurut dia, transformasi bisnis yang sudah berjalan sesuai jalur (on the track) juga dapat mampu membukukan laba sekitar Rp600 miliar, naik dari tahun 2016 yang diprognosa rugi sebesar Rp226 miliar.
Ia menjelaskan, pendapatan selama tahun 2017 diperoleh dari hasil produksi sawit sekitar Rp29 triliun naik dari sebelumnya Rp22 triliun.
Selanjutnya kontribusi pendapatan dari komoditas karet sebesar Rp4,2 triliun, gula sebesar Rp7,8 triliun, teh Rp1,5 triliun, dan komoditas kopi, tembakau, kakao, aneka kayuan, buah-buahan dan aneka tanaman lainnya Rp3,8 triliun.
Meskipun penjualan dan laba usaha PTPN III Holding pada 2017 diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya, namun Massa yang baru menjabat sejak April 2016 itu mengaku belum puas, sehingga transformasi harus terus dilanjutkan.
"Dari 14 PTPN yang ada, 8 diantaranya masih membukukan rugi. Ini yang harus dicarikan terobosan dalam holding agar seluruhnya memiliki kinerja keuangan yang positif," tegasnya.
Program utama PTPN Holding selama 2017 yaitu fokus pada peningkatan volume produksi empat komoditas yaitu sawit, karet, gula dan teh.
"Saat ini produksi sawit PTPN hanya 18,2 ton tandan buah segar (TBS) per hektar, lebih rendah 30 persen dari produksi sawit swasta sebesar 24-25 ton ton TBS per hektar," ujar Massa.
Fokus transformasi bisnis juga dilakukan untuk pengembangan hilirasi, pemberdayaan litbang, penguatan marketing strategy, serta implementasi teknologi informasi terintegrasi termasi penerapan entreprise resources planning dan e-procurement.
Revitalisasi Salah satu program utama tahun 2017, yaitu restrukturisasi utang perbankan yang mencapai sekitar Rp14 triliun, yang mencakup perpanjangan waktu, penurunan bunga, penjadwalan ulang utang pokok dan bunga.
Sedangkan penyelesaian utang non bank berjumlah Rp14 triliun mencakup penjadwalan ulang utang niaga, penyelesaian utang pajak lewat tax amnesty, dan penyelesaian kewajiban kepada karyawan.
Sementara itu, Direktur Keuangan & Korporasi PTPN III Holding, Erwan Pelawi mengatakan, pada tahun 2017 perseroan membutuhkan injeksi dana sekitar Rp6 triliun yang diperoleh dari pinjaman perbankan.
"Sebesar Rp450 miliar sudah diperoleh dari Bank BCA, selebihnya sekitar Rp5,55 triliun akan diupayakan pinjaman dari konsorsium bank BUMN, Mandiri, BRI, BNI," ujarnya.
Ia menjelaskan, sekitar Rp3 triliun dari pinjaman tersebut akan dialokasikan untuk program revitalisasi dan perbaikan sejumlah pabrik untuk meminimalisasi kerugian dan meningkatkan utilisasi pabrik.
Jumlah pabrik kelapa sawit mencapai 73 pabrik, pabrik karet 66, dan 43 pabrik gula dan pabrik lainya. "Perlu identifikasi pabrik mana saja yang harus direvitalisasi baik perbaikan mayor maupun akibat kerusakan minor. Semester I 2017, perbaikan sejumlah pabrik sudah harus rampung,* kata Selebihnya dana investasi digunakan untuk pembenahan kultur teknis dalam pengelolaan komoditi mulai dari pemupukan, peremajaan tanaman, pemeliharaan dan pengolahan hasil sesuai standar yang ditetapkan untuk meningkatkan produksi.(iaf)