INDUSTRY.co.id, Jakarta - Perusahaan yang sustainable adalah perusahaan yang berinovasi dengan teknologi. Apabila tidak, tentu akan ketinggalan dan ditinggalkan oleh customer. Hal ini akan membawa kerugian bagi perusahaan.

Advertisement

Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 270 juta, sekitar 56 juta penduduknya berprofesi sebagai pengusaha atau pedagang. Sayangnya dari angka tersebut, 99% nya masih berada di sektor bisnis mikro informal.

Masalah utama yang dihadapi pelaku usaha tersebut, kurangnya pengetahuan dan kompetensi bisnis dalam hal membesarkan perusahaan.

Advertisement

Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir dalam satu acara di Jakarta mengemukakan, untuk menciptakan pengusaha yang memiliki nilai tambah dan berdaya saing, para pelaku usaha baru harus berbasis teknologi dan berinovasi.

Jika tidak, menurutnya, perusahaan tidak akan dapat bertahan karena kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang kebanyakan sudah berbasis teknologi.

Advertisement

"Pemerintah siap memberikan permodalan awal bagi startup dan membantu bekerjasama dengan industri-industri lainnya," tandasnya.

Lalu, seperti apa terobosan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), dalam mendorong perkembangan ekonomi berbasis teknologi, dalam rangka mendukung upaya komersialisasi hasil riset dan inovasi anak bangsa.

Advertisement

Simak perbincangan redaksi INDUSTRY.co.id dan redaksi dari media lainnya dengan Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir di Hotel Kartika Chandra, Jakarta beberapa waktu lalu.

Bisa Anda jelaskan program PPBT-PT dan IBT?

Ya, salah satu program yang diusung Kemenristek Dikti adalah Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Perguruan Tinggi (PPBT-PT) dan Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT).

Program ini sangat penting, pemerintah akan menginisiasi pembinaan dan pengembangan para pengusaha pemula (startup). Jadi pemerintah akan mendukung bagi industri yang sudah bisa di-startup-kan. Nanti kami akan bantu dalam kerjasama dengan industri-industri lain.

Pemerintah akan terus menjalankan program ini, bagaimana insentif diberikan, mereka akan diberikan permodalan awal. Tapi bukan besar, tapi mengangkat mereka agar berkembang lebih baik.

Riset apa yang menjadi fokus saat ini?

Saat ini Kemenristek Dikti tengah fokus dengan pengembangan riset dan teknologi dalam 7 bidang. Pertama bidang yang menyangkut ketahanan pangan atau food and agriculture. Di mana dalam pangan, diharapkan pada tahun 2018 nanti Indonesia dapat swasembada pangan.

Fokus yang kedua adalah bidang kesehatan dan obat-obatan atau food and medicine. Saat ini, Indonesia belum dapat memproduksi bahan baku obat.

Sampai sekarang di Indonesia bahan baku obat hampir 92 persen masih impor. Indonesia baru bisa membuat sekitar 8 persen bahan baku obat.

Fokus ketiga yakni di bidang Teknologi dan Informasi. Sementara, fokus keempat di bidang transportasi darat, laut dan udara.

Fokus kelima yakni, di bidang advan material. Di mana dalam advan material, Indonesia juga sangat ketinggalan.

Fokus keenam yakni di bidang energi dengan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang diharapkan mampu menyokong kebutuhan energi 35 ribu megawatt di masa depan.

Sementara untuk fokus yang ketujuh, yakni di bidang industri pertahanan. Industri pertahanan ini sangat penting. Sekarang pesawat tanpa awak sudah diproduksi oleh Indonesia. Mungkin juga industri roket ke depannya bisa kita kembangkan, ini sangat mungkin sekali.

Bagaimana dari sisi inovasi industri kita?

Perusahaan yang sustainable adalah perusahaan yang berinovasi dengan teknologi. Apabila tidak, tentu akan ketinggalan dan ditinggalkan oleh customer. Hal ini akan membawa kerugian bagi perusahaan.

Kementerian riset dan teknologi punya tugas, yang selama ini riset hanya menghasilkan publikasi saja. Untuk itu kedepan disamping riset dan publikasi, harus menghasilkan prototipe dan inovasi. Dan, Inovasi inilah yang akan menjadi start up di company itu.

Start up company itu melalui directorat ini melalui perusahaan pemula berbasis teknologi dibawah direktorat jenderal penguatan inovasi.

Ini hal menjadi penting bagi kementerian ristek di ujung hilirya. Bukan di hulunya. Hulu sudah selesai yaitu riset. Mamping riset saya sudah mintakan ke dirjen risbang.

Riset ada 9 level. 1,2,3 masukan masukan di basic riset. 4,5,6 itu protipe, 7,8,9 produk inovasi. Di produk inovation ini harus kita start up kan di company.

Di start company ini kita perhatikan, dimana produk itu di produksi dan mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga tidak merugikan investornya.

Bagaimana dengan Perguruan tinggi?

Beberapa perguruan tinggi yang terlibat pembuat mobil listrik sudah berjalan baik. Yang masih menjadi kendala adalah baterai. Teknologi baterai perkembangan sangat pesat.

Yaitu baterai latium ini mengurangi volumenya tapi kemampuannya tinggi sekali. Pengguna pertama adalah ITS Surabaya. Dia berbasis dari teknologi motor. Hanya tinggal baterai yang menjadi problem dan kerjasama dengan Jepang. Memang ada yang kita sudah mandiri,namun kemampuan masih rendah.

Contoh produk yang sudah sukses dalam inovasi?

Yang inovasi ini kita hilirkan ke industri. Contoh garam farmasi. Di tahun 2014, 2015 masih impor. Mengapa impor, apa tidak mampu? Ternyata ini menjadi cambuk bagi peneliti.

Mereka berjuang keras. Akhirnya peneliti menghasilkan formula garam farmasi dengan baik. Dari hitungan mereka saat itu, di tahun 2015, garam farmasuk dari bahan baku hanya 600 sampai 1000 rupiah per kg-nya.

Namun setelah itu diolah, menjadi industri dengan melakukan inovasi, harga garam menjadi minimal Rp 28 ribu per kg. Luar biasa nilai tambahnya.

Bagaimana Indonesia timur?

Kami lagi kembangkan kapal untuk nelayan. Saya inkubasi juga. Yaitu pengembangan Kapal Pelat Datar. Selain dapat diandalkan untuk membangun kekuatan maritim Indonesia, Kapal Pelat Datar ini juga memiliki daya saing kuat dan biaya produksinya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kapal-kapal berbahan baku kayu maupun fiber.

Kapal Pelat Datar cocok untuk memenuhi kebutuhan para nelayan Indonesia. Rata rata kapal huruf v tapi kapal ini berbentuk huruf w tapi dibalik.

Dari aspek kecepatan di laut, desain buritan kapal yang membentuk huruf W terbalik (semi trimaran) mampu menggerakkan kapal dengan kecepatan dua kali lipat dengan memanfaatkan energi gelombang. Kalau kapal generasi pertama butuh 250 horse power untuk mencapai 24,5 knot.

Kapal ini hanya butuh 170 horse power. Harga kapal baja ini 275 juta. Ini sangat efisien di indonesia timur. Saya yakin Kapal Pelat Datar akan mampu bersaing di Indonesia dan kelas dunia.

Alasannya, kapal ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain punya kecepatan tinggi, daya tahan lebih kuat, proses produksi lebih cepat, dan biaya produksi kapal ini juga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kapal berbahan kayu dan fiber.

Walau berbahan baku baja, harga Kapal Pelat Datar justru lebih murah. Dalam ukuran sama-sama 10 GT (Gross Tonnage), harga kapal kayu 10 GT mencapai Rp 350 juta, sedang harga kapal berbahan fiber mencapai sekitar Rp 470 juta.

Keunggulan lain dari Kapal Pelat Datar ini, merupakan kapal hasil karya anak bangsa Indonesia sendiri. Sehingga proses produksinya bisa dilakukan 100 persen berbahan baku dari Indonesia.

Bagaimana semua program ini agar bisa sukses?

Perlunya sinergi antara pihak terkait. Antara universitas, industri, pemerintah. Pemerintah programnya, melakukan mediasi apa yang ingin dilakukan peneliti dan industri.

Untuk permodalan, pemerintahan harus memediasi apa kebutuhan industri dan yang sediakan oleh peneliti. Terobosan ini dilakukan terus menerus tidak berhenti si sini. (kormen)