INDUSTRY.co.id - Jakarta, Persahabatan menjadi utama di Tahun Baru 2024 karena sahabat bisa menjadi solusi dalam berbagai hal.
Ketua Umum Kill Covid-19 Relief International Services (KRIS) Adharta Ongkosaputra menjelaskan hal tersebut ketika ditemui di Jakarta, Senin (1/1/2024).
Menurutnya, persahabatan bisa menjadi ruang untuk tolong-menolong, termasuk bagi sesama anggota KRIS. "Menjalin persahabatan seluas-luasnya karena persahabatan menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri yang bisa menjadi solusi untuk berbagai permasalahan yang ada," urainya.
Ia berharap anggota KRIS menjalin persahabatan sehingga bisa membantu sesama yang membutuhkan. "KRIS adalah pengharapan besar bagi kita untuk menolong sesama yang membutuhkan karena KRIS akan memberikan dampak besar bagi negeri ini menuju Indonesia Emas 2045," terangnya.
Persahabatan, lanjutnya, menjadi utama karena bisa menciptakan kekompakan dalam menjadikan KRIS bermanfaat untuk Indonesia.
"KRIS adalah pengharapan yang nyata bagi negeri ini yang berupaya menciptakan masyarakat adil dan sejahtera," ucapnya.
Mencari Jalan Terbaik
"Setelah melewati 3 tahun masa pandemi Covid-19 , kita memasuki tahun 2024. Kita ketahui bahwa kondisi negara kita dalam posisi yang sangat sulit sekali walaupun data menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagus. Tetapi jalan menuju 2024 bukanlah jalan yang mudah," papar Adharta.
Menurutnya, adanya peperangan Rusia dan Ukraina, Israel dan Palestina masih menjadi bayang-bayang buruk bagi Indonesia.
"Presiden Jokowi di tahun 2015 beliau mencanangkan Indonesia sebagai Poros Maritim maka sebagai insan Maritim dan berkecimpung di IMO saya merasa Indonesia akan menjadi salah satu negara terkuat di dunia maritim," tuturnya.
Sayangnya, katanya, hal ini tidak terbukti. "Di tahun 2019 sekali lagi gaung Maritim sudah tidak terdengar lantaran digantikan oleh promulgasi Agraris. Sayangnya kita masih impor bahan makanan bahkan termasuk pengimpor beras terbesar. Saya masih ingat tahun 2010 dalam simposium pangan sedunia di Jepang, Negara Matahari ini harus membuang beras karena menjaga stabilitas harga.
Bahkan dilempar ke Indonesia dengan cara dijual harga murah," jelasnya.
Adharta menerangkan, seluruh bangsa Indonesia berharap bisa swasembada pangan. "Daya tahan terhadap pangan harus kuat tetapi dampak pendidikan juga tidak berbuah baik. Anak-anak petani yang lulus sarjana pada umumnya bahkan mencari pekerjaan, ada yang sebagai pegawai negeri. Cita-cita agar hidup enak tidak dicapai dengan kerja yang didukung fasilitas banyak. Tetapi masalahnya yang urus sawah tidak ada. Beberapa teman saya di daerah Karawang terpaksa berhenti kerja sawah karena anak cucu tidak mau melanjutkan usahanya," urainya.
Ia menjelaskan, tanah Indonesia subur lohjinawi. "Kayu bisa jadi tanaman, Ikan dan udang menghampiri dirimu. Ada baiknya semboyan ini tapi menurut saya ini bikin malas justru menurunkan semangat. Karena keberhasilan justru harus kerja keras bukan hanya sekadar duduk-duduk," tegasnya.
Menurutnya, sawah dan ladang harus diperjuangkan bukan dengan sistem pengairan saja dan pupuk gogo tapi juga dengan aplikasi teknologi.
"Kita masih panen dua kali bahkan ada yang sekali. Karena harus diisi tanaman kacang-kacangan untuk menghindari tanah asam. Sebaliknya di Tiongkok sudah dicoba tanam padi di pinggir laut. Dan di Afrika tanam padi di padang pasir. Di medan yang sulit pun bisa tumbuh tanaman," bebernya.
Maka, lanjutnya, kta harus mencari jalan terbaik. "Karena untuk keselamatan bangsa dan negara maka pembangunan harus metata untuk mempertahankan NKRi".
"Ibarat kita punya anak 10. Tiga anak tumbuh jadi orang kaya pengusaha, 4 anak tumbuh jadi pegawai. Sedangkan 3 anak tumbuh menjadi orang miskin tahunya cuma minta-minta dikasihani. Bagaimana kita sebagai orang tua menyikapi dengan bijaksana," ungkapnya.
Menurutnya, mungkin benar kata Nabi besar kita Belajarlah sampai ke negeri Cina. "Mari kita melirik tahun 1980 kata Novi Basuki pencetus agar belajar Bahasa Cina termasuk mengenal budaya Cina. Kita lihat Kota Dan Dong dan Shen Zhen. Saya bisa bandingkan kedua kota ini dengan Pulau Batam. Kita bisa melihat sama dengan Kelinci dan kura-kura uji lari," katanya.
Dan, lanjutnya, kita masih mengharap Kura-kura yang menang. Sebaiknya sekarang saatnya kita mencari jalan yang terbaik
"Jepang menghadirkan era baru setelah kalah perang dengan hinode jokoku atau saatnya Matahari Terbit dan mereka benar-benar melihat Matahari karenanya sukses menjadi negara terbessr di dunia. Kita lihat negara Afrika yang miskin kering kerontang mereka sudah bangkit dan lepas dari kesulitan. Solusi terbaik sambil menanti presiden baru kita. Sisa kepemimpinan Jokowi bisa mengambil skala prioritas. Hilirisasi tambang sudah bagus. Diplomasi Kebudayaan boleh kita lanjutkan karena nilai pariwiaata kita bisa dijual dengan beragam budaya. Pendidikan menjadi andalan," ujarnya.
Jadi, ungkapnya, nilai pendidikan harus diutamakan. "Mahalnya pendidikan membuat kita pincang karena banyak sekolah tapi mahal. "Jadi perlu subsidi pendidikan secara merata. Pembangunan Agraris harus fokus tanam dan teknologi. Industri hasil laut juga harus dimanfaatkan karena vitalisasi sumber daya laut lebih banyak dinikmati pencuri ikan. Saya tetap merasa perlunya perhatian terhadap dunia Maritim sebagai penunjang utama logistik Indonesia. Teknologi dan dukungan industri logistik masih dirasakan sangat kurang. Sistem operasional pelayaran," tambahnya.
Adharta mengusulkan agar pemerintah turun tangan bisa mengadakan kapal sebanyak mungkin lalu bisa menunjuk operator pelaksana operasional kapal kepada swasta dengan sistem bagi hasil.
"Subsidi bahan bakar, biaya birokrasi, perizinan. Sistem keamanan laut harus ditingkatkan. Mari kita mencari jalan terbaik," tutupnya.