INDUSTRY.co.id-Jakarta-Perbankan syariah diperkirakan akan tetap tumbuh seiring perhelatan pemilu 2024. Apalagi konsumsi salahsatunya diperkirakan akan menjadi lokomotif pertumbuhan perbankan syariah.
"Diperkirakan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah tumbuh 11,43 persen dan pembiayaan tumbuh 10,25 persen di 2024," ungkap Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk Banjaran Surya Indrastomo di Jakarta, Jum'at (17/11/2023).
Menurutnya, konsumsi akan menjadi Drive pertumbuhan pembiayaan perbankan. Bahkan konsumsi tidak hanya menyokong pembiayaan perbankan syariah, namun lebih luas lagi sebagai penopang pertumbuhan ekonomi 2024.
"Tahun depan akan tumbuh 5 persen karena tren inflasi terkendali. Lihat daya beli yang berpengaruh ke DPK," kata dia.
Meskipun adanya keterbatasan likuiditas, lanjut dia tidak ada gap antara DPK dengan kredit valas karena gapnya mengecil.
Lebih lanjut tentang likuiditas, dia menjelaskan, perbankan nasional diperkirakan akan tetap mencetak pertumbuhan positif meskipun berpotensi mengalami perlambatan pertumbuhan akibat keterbatasan likuiditas.
"Adanya dinamika politik yaitu pemilihan presiden diprediksi akan berpengaruh dalam melambatnya Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran pembiayaan perbankan, khususnya disebabkan adanya masa transisi periode pemerintahan dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029," katanya.
Selain itu, uangkap dia, secara perekonomian perekonomian global 2024, diprakirakan akan sedikit melambat karena tingginya suku bunga acuan bank sentral global yang masih akan berlanjut. Meskipun inflasi semakin terkendali, terdapat beberapa hal yang perlu diwaspadai, antara lain terkait potensi volatilitas harga komoditas seiring dengan masih tingginya kemungkinan eskalasi tensi geopolitik antarnegara, risiko climate change, dan gangguan cuaca El Nino hingga paruh awal 2024, yang dapat berdampak pada perlambatan penurunan inflasi, Kemudian, terdapat dampak fiskal dari tingginya suku bunga yang berpotensi meningkatkan beban bunga utang negara.
Menurutnya, tingkat ketidakpastian perekonomian global diprediksi masih akan berlanjut seiring pelaksanaan US election, dengan ekspektasi kebijakan moneter akan mulai dilonggarkan di paruh kedua 2024.
"Perekonomian Domestik Menghadapi ketidakpastian global, perekonomian nasional diprediksi masih akan melanjutkan pertumbuhan positif di range 5-6% seperti yang terjadi selama 2023 lalu. Daya tahan Perekonomian masih akan berlanjut. Tingkat konsumsi diperkirakan masih tumbuh kuat di tengah ketatnya kebijakan moneter global dan domestik. Di saat yang sama, terdapat perubahan yang perlu dipertimbangkan yaitu risiko perubahan iklim, perubahan perilaku konsumen, dan digitalisasi," katanya.