INDUSTRY.co.id, Jakarta - Konsumsi beras per kapita mencapai 150 kilogram per orang per tahun di Indonesia. karena itu jangan heran bila pemain-pemain beras bisa melipatkandakan pundi-pundinya setiap tahun.

Menu makan siang Miran tergolong mewah kala itu. Seorang sahabat yang sukses merantau di luar negeri datang saat musim Lebaran beberapa waktu lalu, lalu mengajak Miran ke sebuah restoran Amerika. Di hadapannya tersaji berbagai jenis steak mulai dari steak sapi, ayam hingga seafood. Hampir semua menu tadi disantapnya. Tapi itu belum membuat kenyangnya sempurna lantaran restoran tidak menyajikan tidak sesendok pun nasi.

Bagi Miran, makan tanpa nasi seolah belum makan. Jangan heran bila sepulangnya dari restoran itu, Miran mengulang makan siangnya di rumah, tentu saja kali ini dengan nasi. Barulah Miran merasa nyaman. Cerita Miran merupakan potret gaya hidup “Orang Indonesia Asli” dimana nasi harus tersedia dalam tiga kali sehari di waktu makan.

Makanya, tidak mengherankan bila ada data yang menyebutkan bahwa penduduk Indonesia merupakan salah satu pelahap beras tertinggi di dunia. Tingkat konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia tercatat mencapai 150 kilogram per orang per tahun.     Hanya Myanmar, Vietnam, dan Bangladesh yang memiliki konsumsi beras per kapita yang lebih tinggi dibanding Indonesia.

Kita memang tercatat sebagai negara terbesar ketiga yang memproduksi beras terbanyak di dunia, sekitar 79.000.000 ton per tahun tapi dengan tingkat konsumsi yang tinggi terlebih Indonesia memiliki penduduk lebih dari 225 juta jiwa, membuat Indonesia masih tetap perlu mengimpor beras hampir setiap tahun (walau biasanya hanya untuk menjaga tingkat cadangan beras).

Gambaran tadi menunjukan betapa menggiurkannya bisnis beras. Karena itu wajar bila pemain-pemain beras mampu melipatgandakan pundi-pundinya setiap tahun. Dengan catat mampu memompa pasokan dan produksinya.

Dua pemain beras papan atas yang selama ini asyik menikmati pulennya bisnis beras adalah PT Buyung Poetra Sembada Tbk (BPS). Sukarto Bujung, Direktur Utama BPS, mengatakan penjualan perseroan mencapai Rp1,15 triliun pada 2016. Pendapatan tersebut naik 74,3% dibandingkan capaian pada 2015 yang tercatat sebesar Rp658 miliar. Adapun laba bersih yang diperoleh dalam dua tahun terakhir sebesar Rp53 miliar pada 2015 dan Rp44 miliar pada 2016.

BPS tak puas dengan hasil itu, untuk mendongkrak kinerja di masa datang mau tidak mau BPS harus melakukan ekspansi. Langkah ke lantai bursa dengan menjual sebagian sahamnya ke publik (initial public offering/IPO) pun dilakukan. Dalam aksi korporasi besar tersebut BPS meraup dana segar sebesar Rp210 miliar yang akan dialokasi untuk modal kerja. "Rencana kami dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan sebagai modal kerja perseroan dalam membiayai kegiatan operasional di mana sejak tahun lalu pabrik kami sudah mulai proses produksi dari padi sehingga dapat meningkatkan margin usaha," jelasnya.

Adapun ekspansi perseroan baru akan digulirkan pada 2018. "Tahun depan kami baru akan bangun pabrik baru, nilai investasinya sekitar Rp100 miliar dari kas internal," imbuhnya. Setelah pabrik baru beroperasi, kapasitas produksi BPS meningkat hingga 259,2 ribu ton beras per tahun. Sehingga total produksi beras keseluruhan yang dihasilkan oleh Buyung Poetra Sembada adalah 561,6 ribu ton per tahun.

Sukarto Bujung, mengatakan bahwa saat ini perseroan telah memiliki dua pabrik yang telah beroperasi yaitu di Cipinang dan Subang. Pabrik pertama yang berlokasi di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, mampu menghasilkan 43,2 ribu ton beras tiap tahunnya. Sedangkan pabrik beras di Subang, Jawa Barat, memproduksi 259,2 ribu ton beras per tahunnya.

Sebagaimana diketahui BPS memperoduksi beras berbagai jenis dengan merek-merek yang sudah dikenal luas di masyarakat diantaranya Topikoki, Rumah Limas, Belida, BPS, serta satu merek baru yang diluncurkan tahun lalu, yaitu Hoki. Selain itu BPS  juga memproduksi beras private brand untuk perusahaan berdasarkan kerjasama yang telah disepakati.  Produk private label yang sudah dihasilkan antara lain, Hypermart, Lotte, Giant, Hero, Value Plus, Yogya, dan lainnya.

Kembali ke IPO, setalah menikmati dana publik untuk modal kerja. Siap pun memacu kinerjanya. perusahaan ini membidik pertumbuhan penjualan dan net profit tahun ini sebesar 30%. Artinya kalau mengacu pada kinerja 2016, maka di akhir 2017 BPS akan mengantongi penjualan sebesar Rp1,43 triliun dan laba bersih Rp57,2 miliar.

Adapun per kuartal  I  2017,  Sukarto menyatakan perusahaannya membukukan penjualan sebesar Rp347,6 miliar. Menurutnya, target tersebut masih on the track terhadap target tahunan mereka yang mengejar pertumbuhan 30%. "Pertumbuhan ini tanpa adanya tambahan kapasitas pabrik baru," ungkapnya.

Optimisme serupa dengan produsen beras lainnya yakni PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPSF). Tahun ini perusahaan yang juga telah melantai di bursa saham berharap bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp7,6 triliun, tumbuh 16,9% dibanding pendapatan tahun lalu Rp6,5 triliun.

Untuk mengejar ambisi itu, tahun ini TPSF mengalokasikan anggaran belanja modal Rp560 miliar. Rencananya anggaran ini bakal dibagi dua, yaitu untuk ekspansi bisnis makanan sebesar Rp465 miliar dan investasi bisnis beras Rp95 miliar. Untuk diketahui selain berbisnis beras dengan merek Ayam Jago dan Maknyuss, perusahaan ini dikenal sebagai produsen makanan ringan. Merek utamanya adalah Taro.

Untuk bisnis beras, TPSF tercatat memiliki dua pabrik beras yakni di Purwakarta Jawa Barat dan di Sragen, Jawa Tengah. Total kapasitas produksi sebesar 480.000 ton per tahun. Tahun lalu, sebenarnya TPSF berencana menambah dua pabrik beras di wilayah Sulawesi Selatan, dengan kapasitas produksi 240 ribu ton per tahun. Anggarannya mencapai Rp300 miliar. Namun rencana tersebut hingga kini belum kunjung direalisasikan. Bila melihat anggaran belanja modal TPSF yang hanya Rp95 miliar untuk divisi beras maka tampaknya pembangunan pabrik tersebut belum akan dilakukan hingga akhir 2017.

Sekretaris Perusahaan Tiga Pilar Sejahtera Food Desilina menuturkan, untuk kelanjutan pembangunan pabrik beras baru, pihaknya masih memperhatikan kinerja kenaikan beras dalam kemasan. Sampai saat ini, pihaknya telah memiliki 2.200 mitra usaha yang menangani beras berlabel Maknyuss.

Walau urung menambah kapasitas produksi beras, dari sisi target kinerja TPSF juga punya ambisi besar mengejar target penjualan Rp7,61 triliun atau naik 10,61%. Dari penjualan tahun 2016. Dari target tersebut divisi beras diharapkan memberi kontribusi sebesar Rp4,53 triliun.

Sayangnya, TPSF kini tersandung masalah. Anak usahanya PT Indo Beras Unggul harus berurusan dengan hukum menyusul dugaan penipuan dengan menjual beras medium bersubsidi seharga beras premium. Kasus ini membuat kepercayaan investor di bursa saham merosot dan membuat harga saham TPSF. Akankan kasus tersebut membuat target-target yang ditetapkan Perseroan akan tercapai? Sulit dijamin.