INDUSTRY.co.id - Jakata - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengajak sejumlah wartawan media nasional, menikmati berbagai fasilitas yang ada di gedung Perpusnas di Jl Medan Merdeka Selatan pada Selasa (5/9/2023).
Mulai dari kecanggihan ruang audio-visual di lantai 8, kecepatan dan kenyamanan pembuatan kartu anggota di lantai 2, menyaksikan sejumlah naskah kuno Nusantara di lantai 9, hingga mengenal perangkat musik tradisional gamelan.
Setelah itu, belasan wartawan diajak ke Hotel JW Marriot untuk makan siang, sekaligus mengikuti paparan program yang sudah dan akan dicapai Perpusnas.
Acara Media Gathering ini merupakan upaya yang dilakukan Perpusnas dalam rangka membina hubungan baik dengan rekan media sekaligus wujud dari kesadaran akan peran vital literasi dalam masyarakat.
Karena tugas mewujudkan masyarakat yang literat adalah tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa. Tentu didalamnya termasuk entitas Perpustakaan Nasional dan media.
"Terutama dalam era digital dewasa ini, media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi kita tentang dunia. Media memiliki peran yang sangat penting dalam mengedukasi, menginformasikan, dan menginspirasi masyarakat melalui informasi resmi, lengkap, dan akurat," kata Agus Sutoyo, Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Perpusnas.
Menurut Agus, Perpusnas mengusulkan 3 naskah kuno Nusantara agar tercatat sebagai Memori Ingatan Dunia atau Memory of the World (MoW) UNESCO.
“Tiga naskah kuno yang akan diusulkan ke UNESCO pada tahun ini, yakni Tambo Tuanku Imam Bonjol, Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan Syair-syair Hamzah Fansuri,” ujar Agus Sutoyo.
Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian merupakan naskah Sunda yang ditulis dalam aksara Sunda kuno. Sementara Tambo Tuanku Imam Bonjol (Sumatera Barat) dan Syair-syair Hamzah Fansuri (Sumatera Utara) ditulis dalam aksara Arab Melayu.
Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian berisi tentang pengobatan maupun permainan tradisional Sunda. Syair-syair Hamzah Fansuri berkisah tentang perjalanan seorang raja yang mencari Tuhan. Sementara Tambo Tuanku Imam Bonjol berisi tentang semangat patrioritisme untuk menumpas kolonialisme.
Sementara Sri Marganingsih Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Perpusnas memaparkan sejumlah program unggulan Perpusnas. Salah satunya Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang telah digelar sejak 2018.
"Dengan program TPBIS, Perpusnas terus bergerak untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik berbagi pengalaman, berlatih keterampilan dan kecakapan hidup, belajar secara konteksual untuk menjadi masyarakat produktif, mandiri dan sejahtera," terang Sri Marganingsih.
Program TPBIS terdiri dari kegiatan pendampingan, bimtek, bantuan TIK, bantuan koleksi siap pakai dan rak buku, dan perangkat jaringan untuk akses internet.
Sebagai instansi yang berorientasi pada jasa layanan, Perpustakaan Nasional terus berusaha untuk meningkatkan layanan secara prima.