INDUSTRY.co.id - Jakarta- Sepanjang 2022 PT Garuda Indonesia Tbk (GIIA) mencatat laba bersih US$ 3,81 miliar atau setara dengan Rp 56,7 triliun (asumsi kurs Rp 14.900)
Bagi masyarakat yang masih awam terkait laporan keuangan perusahaan, laba jumbo Garuda Indonesia sebesar Rp 56,9 triliun tentu menimbulkan tanda tanya. Terlebih, maskapai pelat merah ini selama ini masih didera dengan utang yang menggunung dan masih sering mencatatkan kerugian. Sebagai contoh, pada kuartal I 2023 saja, Garuda mencatat kerugian sebesar Rp 1,61 triliun.
Menanggapi hal ini Sekretaris Jendral (Sekjend) Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Dr. Anggawira, MM, MH mengatakan bahwa sebanarnya laba atau kerugian dari Garuda Indonesia bisa dinilai dengan melihat laporan keuangan yang di release di Internet.
"Yang saya lihat dari laporan keuangan PT Garuda Indonesia ini keuntungan bukan berasal dari pendapatan reguler, tapi lebih banyak dari restrukturisasi utang. Hal ini membuat kaget masyarakat karena sebelumnya sudah dinyatakan akan bangkrut lalu bisa mencetak laba sangat tinggi," ungkap Anggawira pada Jumat (02/06/2023).
Anggawira juga menambahkan lebih baik bisa mensajikan data real dari pada pencitraan, agar publik tidak merasa dibohongi karena kenyataannya Garuda Indonesia saat ini masih mengalami kerugian.
"Lebih baik Garuda Indonesia saat ini lebih fokus mengelola keuangannya dengan meningkatkan kinerjanya hingga pelayanan dalam maskapainya. Mengingat persaingan yang ketat dalam industri penerbangan harus melakukan inovasi dalam meningkatkan pelayanan itu menjadi kunci," kata Anggawira.
Garuda Indonesia adalah salah satu maskapai penerbangan terbesar di Indonesia dan memiliki peran penting dalam pengembangan industri penerbangan nasional. Hal ini juga bisa menjadi pacuan Garuda Indonesia agar bisa terus menata kinerja internal hingga pelayanannya kepada penumpang. Karena saat ini Garuda Indonesia juga masih jauh dalam kriteria untuk bisa masuk dalam Berikut 10 maskapai terbaik di dunia.
"Terdapat berbagai aspek lain yang perlu dipertimbangkan, termasuk kinerja operasional, kualitas layanan, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang. Hipmi juga akan berkomitmen mendukung perkembangan industri penerbangan. Kami berharap Garuda Indonesia dapat terus memperkuat posisinya sebagai maskapai nasional yang kompetitif, memberikan layanan berkualitas tinggi, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara," tutup Anggawira.