INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali merilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI). Pada bulan Februari, IKI meningkat 0,78 poin dibandingkan Januari 2023 menjadi 52,32. 

Advertisement

Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor industri nasional masih berada di level ekspansi.

Adapun, ekspansi IKI tersebut disumbang oleh 16 subsektor industri dengan proporsi share terhadap PDB Industri pengolahan non migas sebesar 87,7%. 

Advertisement

Dari 16 subsektor tersebut, 4 (empat) subsektor diantaranya mengalami perubahan fase dari kontraksi ke ekspansi yaitu sektor Pencetakan dan Reproduksi Rekaman (KBLI 18), Karet, Barang dari Karet dan Plastik (KBLI 22), Barang Galian Bukan Logam (KBLI 23), dan Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26). 

Peningkatan nilai IKI bulan Februari 2023 terjadi pada seluruh variabel pembentuk IKI dan utamanya masih didominasi oleh pesanan domestik. 

Advertisement

Variabel Pesanan Baru meningkat dari 51,14 menjadi 52,81, variabel Produksi yang meningkat dari 50,35 menjadi 51,37, dan variabel Persediaan Produk menurun dari 54,34 pada Januari 2023 menjadi 52,51 pada Februari 2023.

"Angka IKI yang konsisten meningkat dalam 4 bulan terakhir menandakan bahwa prospek industri pengolahan dalam negeri untuk tumbuh lebih baik pada 2023 terus terjaga meski perlambatan pertumbuhan perekonomian global diprediksi masih akan berlanjut pada 2023," kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, saat melakukan Rilis IKI Februari 2023 di Jakarta, Selasa (28/2).

Advertisement

Meski demikian, terdapat 7 subsektor industri yang masih berada di level kontraksi pada Februari 2023. Ketujuh subsektor industri tersebut memiliki proporsi share terhadap PDB Industri pengolahan non migas sebesar 12,3%. 

Lebih lanjit, Febri menjelaskan bahwa pelaku usaha lebih optimis dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dimana 89,2% pelaku usaha menyatakan optimis dan stabil terhadap kondisi usaha industri selama 6 bulan kedepan. 

"Angka ini konsisten meningkat dari sejak November 2022," jelasnya.

Optimisme pelaku usaha bahwa kondisi pasar akan membaik dikarenakan kebijakan pemerintah pusat yang lebih baik, meski perekonomian global pada 2023 diperkirakan mengalami perlambatan. 

Seiring meningkatnya optimisme pelaku usaha, persentase pesimisme pelaku usaha mengalami penurunan dari 13,60% pada Januari 2023 menjadi 10,81% pada Februari 2023.