Apa Permainanmu?

Oleh : Reza A.A Wattimena | Selasa, 27 Juni 2017 - 13:20 WIB

Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)
Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)

INDUSTRY.co.id - Dunia ini… panggung sandiwara.. ceritanya mudah berubah…. Begitulah lirik lagu rock klasik Indonesia yang berjudul panggung sandiwara.  Ada untaian kebijaksanaan di dalam lirik tersebut. Memang, setiap orang memiliki peran di hidup ini. Namun, peran ini tidaklah tetap, melainkan terus berubah, sesuai keadaan.

            Hidup ini bagaikan bermain sinetron. Kadang, kita memainkan peran orang yang berhasil. Kadang, kita memainkan peran orang yang gagal. Tak ada yang abadi.

Teori Permainan

            Simon Sinek, pemikir kepemimpinan asal AS, melihat hidup dalam kaca mata teori permainan. Di dalam teori ini, ada dua bentuk permainan, yakni permainan tak terbatas, dan permainan terbatas. Orang yang memainkan permainan tak terbatas (infinite game) akan bermain untuk bisa tetap bermain. Ia bermain untuk jangka panjang dengan aturan permainan yang terus berubah.

            Di sisi lain, di dalam permainan terbatas (finite game), orang bermain untuk menang. Ini mirip pertandingan sepak bola. Ada aturan yang tetap, dan semua orang bermain untuk menang. Setelah pertandingan selesai, semuanya pun selesai.

Dalam Organisasi

            Kedua bentuk permainan tersebut pun bisa diterapkan di dalam organisasi. Organisasi, yang memainkan permainan tak terbatas (infinite game), tidak berambisi untuk memenangkan persaingan. Tujuan dasar mereka adalah untuk tetap ada dalam jangka panjang. Untuk itu, mereka harus berubah, sesuai dengan perubahan keadaan.

            Organisasi dengan permainan tak terbatas berkembang secara bertahap. Mereka tidak rakus. Kadang, mereka memenangkan persaingan. Kadang, mereka kalah.

            Mereka tak pusing dengan ranking. Mereka tak pusing dengan siapa yang nomor satu. Fokus mereka adalah untuk terus berkembang lebih baik dari sebelumnya. Saingan utama mereka bukanlah organisasi lain, melainkan diri mereka sendiri.

            Sebaliknya, organisasi, yang memainkan peranan terbatas (finite game), akan bergerak cepat dan ambisius. Mereka ingin menjadi yang nomor satu. Mereka ingin terus mengalahkan semua pesaing, dan menguasai pasar.

            Fokus mereka adalah mengalahkan lawan. Untuk itu, mereka bersedia mengeluarkan uang banyak, bahkan berhutang, jika diperlukan. Akibatnya, stamina mereka lemah. Setelah beberapa waktu, dan mungkin sempat menjadi yang nomor satu, mereka akhirnya menghilang.

Apa Permainanmu?

            Jika ditanya, apa permainanmu? Banyak orang akan menjawab, mereka memainkan permainan terbatas (finite game). Banyak orang, termasuk pimpinan organisasi-organisasi besar, sibuk berkonsentrasi untuk mengalahkan semua pesaing. Akibatnya, mereka menjadi agresif.

            Karena ambisi yang buta, mereka pun kehilangan banyak sumber daya. Organisasi semacam ini akan melejit cepat, dan menghilang ditelan waktu. Di Jepang, perusahaan Kodak adalah perusahaan yang bermainan dengan permainan terbatas. Di Indonesia, seven eleven adalah contoh yang paling cocok.

Di dalam politik global, banyak negara juga memainkan permainan terbatas. Mereka sibuk untuk menjadi yang nomor satu. Mereka tergila-gila dengan ranking. Mereka menghabiskan banyak sumber daya untuk mengalahkan negara-negara lainnya dalam percaturan politik dunia.

            Negara-negara semacam ini cepat naik dan cepat juga hilang. Stamina mereka lemah. Tata kelola pembangunan mereka tidak langgeng. Krisis pun seringkali menghantam mereka.

            Sebaliknya, negara-negara, yang memainkan permainan tak terbatas, lebih tenang. Mereka berkembang secara bertahap. Mereka tidak sibuk dengan ranking. Mereka tak ingin menjadi nomor satu, dan tak ingin menguasai dunia.

            Warganya hidup dalam kecukupan. Politik dan ekonomi pun berjalan stabil. Pertumbuhan ekonomi bukan menjadi tujuan utama. Tujuan utamanya adalah untuk tetap ada sebagai negara yang adil dan makmur, walaupun tak terdengar di gejolak politik dunia.

            Maka, sekali lagi, saya bertanya, apa permainanmu?

Reza A.A Wattimena - Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Chatuchak Weekend Market (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 19 April 2019 - 21:00 WIB

Penting Dicatat Para Shopaholic! Enam Destinasi Belanja di Seluruh Dunia

Ada banyak cara untuk mengangkat suasana hati seseorang, namun terapi ritel tidak diragukan lagi merupakan pilihan populer di antara banyak orang Indonesia, terutama ketika mereka bepergian.

Menristekdikti Mohamad Nasir (Foto Dok Humas)

Jumat, 19 April 2019 - 19:00 WIB

Menristekdikti: Revolusi Industri 4.0 Perlu Peningkatan Pendidikan Vokasi

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, mutu dan relevansi pendidikan tinggi vokasi terhadap industri perlu ditingkatkan, agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan tenaga profesional dalam industri…

Rumah Gadang Minang Sumatera Barat (Foto Ist)

Jumat, 19 April 2019 - 17:00 WIB

Industri Pariwisata, Andalan PAD Kabupaten Agam Sumbar

Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat menargetkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp140 juta dari tiga objek wisata milik pemerintah setempat selama 2019.

CK Fong Presiden Direktur Treasure Bay Bintan (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 19 April 2019 - 15:00 WIB

Setahun, Treasure Bay Bintan Dikunjungi 180 Ribu Wisatawan

Objek wisata Treasure Bay yang ada di kawasan wisata Lagoi, Bintan masih menjadi objek wisata unggulan di Pulau Bintan bahkan di Kepri. Pada 2018 saja, resort yang dibangun dilahan seluas 338…

Kota Baru Meikarta Cikarang (Ist)

Jumat, 19 April 2019 - 14:00 WIB

Solusi Hunian Baru, Meikarta Pasarkan Unit Baru Seharga Rp280 Juta

Meikarta, hunian yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat kembali memasarkan unit barunya dengan harga mulai Rp280 juta sebagai solusi bagi masyarakat yang ingin mencari hunian…