INDUSTRY.co.id - Brazil merupakan negara eksportir kedua terbesar dan produsen keempat terbesar di dunia untuk kapas. Pasar utama kapas Brazil di Asia adalah China, Vietnam, Bangladesh, Pakistan, Turki dan Indonesia. Brazil telah mengekspor 1,58 juta ton kapas dari Agustus 2021 hingga April 2022. Dengan terus berkembangnya industri fashion di Asia, Brazil berencana meningkatkan kapasitas produksi kapas. Pada siklus berikutnya diproyeksikan pengiriman kapas dari Brazil dapat mencapai 1,74 juta ton.
Sebagai salah satu produsen terbesar, Brazil menyadari ada dampak lingkungan yang dihasilkan dari produksi kapas. Itulah sebabnya, Brazil meluncurkan Cotton Brazil, sebuah program pengembangan pasar internasional untuk mempromosikan keberlanjutan pertanian.
“Melalui penelitian dan inovasi selama dua dekade terakhir, kami berusaha keras menuju praktik pertanian yang tepat yang mengoptimalkan penggunaan sistem air yang efisien, menghindari produksi berlebih, dan memastikan bahwa penanaman kapas berkelanjutan,” ungkap Marcelo Duarte - Director of International Relations, The Brazilian Cotton Growers Association (ABRAPA).
Industri tekstil Indonesia yang 41% impor kapasnya berasal dari Brazil, dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang positif. Hal ini akan semakin baik lagi ke depannya dengan memanfaatkan bahan baku yang berkelanjutan. Untuk memperkuat kerja sama dengan berbagai perusahaan yang bergerak di sektor tekstil di Indonesia sekaligus mempromosikan penggunaan serat alami, khususnya kapas, Cotton Brazil melakukan kunjungan ke sejumlah negara di seluruh pasar utama
“Khusus untuk Indonesia, kami merencanakan Seller Mission di kuartal keempat, yang akan memungkinkan kami untuk menjalin kemitraan yang lebih kuat dengan perusahaan di seluruh rantai nilai industri, dari pedagang dan pedagang lokal kami hingga asosiasi perdagangan,” jelas Marcelo.
Tantangan Mencapai Industri Tekstil Berkelanjutan
Salah satu tantangan terkait upaya keberlanjutan di industri tekstil adalah mengenai penanganan limbah, khususnya jika industri melanjutkan untuk menggunakan serat sintetis seperti poliester dan nilon.
Daur ulang tekstil juga terhambat oleh kurangnya teknologi, untuk itu akan dibutuhkan sistem pengumpulan yang lebih baik yang dapat mengotomatisasi dan menyortir kain yang berbeda secara bersamaan.
Marcelo menambahkan, selain pemborosan kain, penskalaan sirkularitas tetap menjadi tugas yang menantang ketika sebagian besar industri masih bergantung pada sistem linier. Logistik jarak jauh dan masalah rantai pasokan juga merupakan faktor kunci yang menghambat lebih banyak bisnis mengadopsi model sirkular, seperti pengumpulan limbah pasca-konsumen dan biaya logistik yang tinggi dalam pengiriman kain daur ulang.
“Untuk mendorong pedagang maupun produsen tekstil di Asia menggunakan kapas berkelanjutan, Cotton Brazil akan membentuk kemitraan yang lebih strategis dan selanjutnya mendorong pangsa pasar kami di pasar utama Asia,” pungkas Marcelo. (*)