INDUSTRY co.id - Bandung - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjadikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai andalan dalam pengembangan Peta Jalan Making Indonesia 4.0.
Pengembangan industri TPT melalui industri 4.0 bertujuan meningkatkan daya saing industri tekstil dalam negeri dengan memanfaatkan teknologi yang mampu memproduksi tekstil sandang maupun tekstil kebutuhan yang lebih spesifik.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kemenperin Dody Widodo mengatakan industri tekstil masih memberikan sumbangsih besar bagi perekonomian di Indonesia.
Kini, lanjutnya, industri tekstil pun mulai menggeliat setelah sempat terpuruk imbas pandemi. Dari data, pertumbuhan sektor tersebut mencapai angka 12,5 persen.
“Ini menggambarkan industri tekstil menjadi andalan kita semua dan menyerap tenaga kerja yang cukup banyak,” kata Dody dalam kegiatan temu alumni ITT-STT-Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil pada Minggu (17/7).
Diketahui, industri TPT berkontribusi menyerap tenaga kerja sebesar 3,65 juta orang berdasarkan data pada Agustus 2021.
Menurut Dody, Indonesia diberkahi kekayaan wastra-wastra dari daerah yang terkenal indah dan unik. Budaya pemintalan di kampung halaman bagi sebuah daerah juga menjadi hal yang patut dibanggakan dari Indonesia.
Atas dasar-dasar alasan itu lah, Kemenperin optimistis industri tekstil bisa berkembang pesat di Indonesia.
Lebih lanjut, industri TPT memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Daya saing industri tersebut di tanah air didukung dengan struktur industri yang telah terintegrasi dari hulu hingga hilir, serta semakin kompetitif dengan tinggnya permintaan dari dalam negeri serta ekspor.
Perjalanan 100 tahun industri TPT di Indonesia, sambung Dody, merupakan momen untuk terus meningkatkan kinerja sektor ini.
Dalam usia yang matang, industri TPT diharapkan terus berkembang dengan inovasi melalui ruang-ruang aplikasi baru dan cara-cara baru dalam proses manufaktur.
“Orang Indonesia ini sangat dekat dengan industri tekstil. Jadi kalau 100 tahun ini saya berharap di mana kami sempat turun di awal 2000-an dan sekarang 2006 mulai naik lagi, akhir-akhir ini kami bangkit lebih maju lagi,” jelasnya.
Dody menjelaskan, 100 tahun industri tekstil diwakili dengan kehadiran Politeknik STTT Bandung yang merupakan bentuk kontribusi Kemenperin dalam penciptaan sumber daya manusia (SDM) industri yang terlatih.
“STTT ini bisa menjadi batu loncatan ke depannya di era making 4.0. Industri tekstil akan lebih maju dengan sumber daya yang semakin bagus,” ujarnya.
Di lokasi yang sama, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh menyebut industri tekstil telah memberi sumbangsih 6,35 persen dalam Produk Domestik Bruto (PDB).
Bila dinominalkan, nilai ekspor sektor ini sudah berhasil mencapai 13 miliar dolar AS dengan jumlah tenaga kerja di seluruh industri sekitar 3,56 juta. Diharapkan, tahun 2030 mendatang nilai ekspor bisa meningkat hingga menyentuh angka 30 dolar AS.
"Mudah-mudahan pada 2030 nilai ekspor bisa naik mencapai 20 miliar dolar AS bahkan 30 miliar dollar AS," ujar dia.