INDUSTRY.co.id - Jakarta- Perseroan Terbatas Bursa Efek Indonesia terus mendorong perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) sebagai salah satu antisipasi terhadap potensi aliran dana asing masuk (capital inflow) ke pasar modal domestik.

Advertisement

Potensi aliran dana asing itu bakal mengalami peningkatan setelah Indonesia meraih predikat "investment grade". Oleh karena itu, perlu menyiapkan produk, seperti penambahan jumlah emiten, guna mengantisipasinya, kata Direktur Utama BEI Tito Sulistio kepda awak media di Jakarta, Selasa (20/6/2017)

Ia lantas mengucapkan, "Besok (Rabu, 21/6/2017) akan ada empat saham perusahaan baru yang akan dicatatkan di BEI, semester kedua nanti ada anak usaha BUMN." Selain itu, kata dia, BEI juga telah menambah jumlah saham yang dapat ditransaksikan secara margin dengan harapan dapat meningkatkan likuiditas transaksi efek di pasar modal Indonesia.

Advertisement

Berdasarkan data BEI periode Juni 2017, terdapat 196 efek yang dapat ditransaksikan secara margin, daftar efek tersebut mayoritas merupakan saham yang masuk dalam kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45.

Ia menjelaskan hanya nasabah dari perusahaan sekuritas yang tercatat sebagai anggota bursa (AB) dengan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) di atas Rp250 miliar yang dapat memanfaatkan transaksi saham margin.

Advertisement

Bagi nasabah AB dengan MKBD di bawah Rp250 miliar, lanjut dia, hanya dapat melakukan transaksi margin pada saham yang masuk dalam indeks LQ-45.

Selain itu, Tito Sulistio mengatakan bahwa pihaknya juga menyiapkan produk derivatif, salah satu yang sedang disiapkan adalah produk derivatif dengan basis obligasi, yakni Indonesian Government Bonds Futures (IGBF) "Jadi, kami siapkan produknya, dan juga siapkan derivatif," katanya.

Advertisement

Ia mengatakan bahwa pihaknya juga akan mengembangkan infrastruktur pasar modal dengan meningkatkan "availability", "realibility", dan "capacity" sistem JATS Next G menjadi 15 juta transaksi dari sebelumnya lima juta transaksi. (Ant)