INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa negara-negara anggota G20 menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi yang ditimbulkan akibat perang Rusia-Ukraina, karena hal itu menghambat proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung di dunia. 

Selain itu, negara-negara berpenghasilan rendah sangat terpengaruh karena mereka menghadapi juga tantangan ruang fiskal yang terbatas serta kerentanan terhadap utang yang tinggi.

Untuk itu, para anggota G20 menggarisbawahi peran penting G20 sebagai forum utama kerja sama ekonomi internasional untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang beragam dan kompleks ini. 

Di samping itu, para anggota G20 juga menggarisbawahi peran penting keuangan berkelanjutan untuk pemulihan ekonomi global yang inklusif, tangguh, dan ramah lingkungan, serta pencapaian agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan konvensi kerangka kerja PBB tentang perubahan iklim (UNFCC) dalam Paris Agreement.

Presidensi G20 Indonesia memiliki peran besar dalam memimpin aksi global menuju pemulihan yang kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif. 

Oleh karena itu, Indonesia akan terus melakukan komunikasi dan konsultasi intensif kepada seluruh anggota G20.

"Indonesia menjamin penyelenggaraan pembahasan agenda G20 akan berdasarkan semangat kooperasi dan multilateralisme. Hal ini selaras dengan prinsip konstitusi Indonesia," kata Menkeu Sri Mulyani saat konferensi pers Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting, di Washington D.C, AS seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Jumat malam (22/4/2022).

Sebagai informasi, dalam pertemuan tersebut Menkeu membahas empat agenda utama G20, yakni ekonomi global dan risikonya, lalu kedua isu kesehatan global, kemudian ketiga arsitektur keuangan internasional dan terakhir keuangan berkelanjutan.

Adapun hasil yang telah disepakati bersama ialah terkait isu kesehatan global bahwa G20 sepakat tindakan kolektif dan terkoordinasi untuk mengendalikan pandemi tetap jadi prioritas.

"G20 mencapai konsensus untuk membentuk mekanisme keuangan baru sebagai solusi atas kesenjangan pembiayaan kesiapsiagaan pandemi," ujar Menkeu.

Lalu mengenai kondisi ekonomi global, G20 menyatakan kekhawatiran akan tekanan inflasi yang lebih luas dan persisten serta konflik geopolitik yang membuat.

Menurut Sri Mulyani, G20 menyatakan pentingnya memenuhi komitmen untuk membawa kebijakan ke dalam ranah dunia, tak hanya fokus pada domestik negaranya.

Kemudian maslah isu keuangan berkelanjutan, menurut Sri Mulyani G20 kembali menegaskan keuangan berkelanjutan penting untuk pemulihan ekonomi global yang hijau, tangguh, dan inklusif.

"G20 memastikan implementasi Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan G20 untuk meningkatkan instrumen keuangan berkelanjutan yang fokus pada aksesibilitas dan keterjangkauan," tandasnya.

Adapun terkahir soal arsitektur keuangan internasional, G20 kembali menegaskan komitmennya mendukung negara-negara berpenghasilan rendah dan rentan.

"G20 menyambut baik pembentukan Resilience and Sustainability Trust (RST) dan kontribusi USD100 miliar untuk negara yang membutuhkan.G20 menegaskan kembali komitmen untuk penguatan Jaring Pengaman Keuangan Global yang efektif," pungkas Sri Mulyani.