INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ketua Umum Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI) Sibarani Sofian mengatakan bahwa membangun kota bukan hanya membangun fisik elemen-elemennya saja (Gedung, jalan, infrastruktur, taman, dan lain-lain), tetapi membangun suatu peradaban yang terbentuk dari ruang binaan. Terlebih dalam membangun Ibu Kota Negara (IKN).
Menurutnya, seni dan teknik membentuk ruang binaan adalah peran dari berbagai disiplin ilmu ruang binaan yang harus dilakukan oleh profesional terkait secara terintegrasi dan prosedural.
"Perkotaan adalah ilmu terapan yang kompleks dan non-linear, diperlukan kepakaran, rekam jejak dan jam terbang tinggi untuk bisa memberikan advis terbaik. Jangan hanya bertumpu pada masukan politis dan/atau estetis satu orang/pihak yang mungkin tidak paham ilmu perkotaan," kata Sibarani dalam Pro Talk #01 bertema “Paradigma Kota & Arsitektur di Masa Depan. Bagaimana Posisi Indonesia? Bagaimana Posisi IKN?” yang dikutip INDUSTRY.co.id, Rabu (2/2/2022).
Dia mengungkapkan bahwa wisdom nenek moyang mengajarkan bagaimana berinteraksi dan menghormati alam, bukan menguasai dan mengalahkan alam tapi hidup berdampingan menjadi bagian dari alam. Wisdom itu, katanya, perlu disampaikan kembali dengan cara yang modern.
"Melalui parameter-parameter dan monitoring system maupun teknologi. Hal ini butuh sumber daya manusia yang penuh kesadaran dan paham. Kita punya kompetensi untuk membangun ke arah sana. Dan pelaku-pelakunya harus profesional-profesional yang kompeten di bidangnya.” tegasnya.
Hal ini juga selaras dengan yang disampaikan oleh Georgius Budi Yulianto, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), “Negara kita memiliki parameter dan kriteria pembangunan yang tertuang dalam UU dan Peraturan yang dikeluarkan Pemerintah. Seluruh proses perizinan pembangunan harus memenuhi parameter tersebut. Banyak orang bisa mendesain, tapi yang bisa mempertanggung jawabkan karya tersebut secara hukum adalah profesional yang sudah teregistrasi dan berlisensi.” katanya.