Derita Tukang Cukur di Masa Pandemi: Harus Rela Berhutang, Penghasilan Berkurang, Dilarang Pulang Hingga Rindu Kasih Sayang
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sedih..itulah kata yang pantas menggambarkan situasi ratusan bahkan ribuan para tukang cukur atau pangkas rambut di masa pandemi virus corona baru atau Covid-19.
Bagaminana tidak, mereka harus rela berhutang demi kelangsungan hidup dan usahanya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka dengan terpaksa harus menutup kiosnya karena tidak sanggup lagi untuk membayar sewa.
Hal ini pun dialami oleh Sunandar. Pria asal tasik yang sehari-hari membuka kios di kawasan Cibitung ini pun harus rela menjual seluruh barang berharganya demi kelangsungan usahanya di tengah pandemi Covid-19.
"Ya terpaksa harus jual barang yang ada demi tetap lanjut, kalau engga gitu engga bisa nafkahin anak istri di kampung," kata Sunandar saat ditemui Industry.co.id di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (26/4/2020).
Dijelaskan Sunandar, di masa pandemi Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini banyak orang yang lebih memilih berdiam diri di rumah. Bahkan, justru tidak sedikit dari mereka yang terpaksa menunda untuk mencukur rambut.
"Yang mau cukur rambut sekarang sepi, sangat-sangat sepi. Semua pada takut keluar rumah, takut tertular virus corona," jelas pria yang sering disapa mang Nandar.
Saat ini, menurutnya, penghasilan bisa dibilang sangat menurun sangat tajam dari hari biasanya. "Pendapatan menurun, biasanya di hari-hari biasa bisa dapat paling kecil Rp500.000. Sekarang mah boro-boro, dapat Rp100.000 saja sudah bagus banget," ucap Nandar.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tidak sedikit dari teman-temannya se-profesi sudah memilih untuk pulang ke kampung halaman, sebelum pemerintah secara resmi melarang mudik. "Mereka sudah mencuri start mudik duluan sebelum dilarang, karena mau bagaimana lagi disini pun mereka sulit. Mau minta perhatian pemerintah pun sulit, tak ada sedikit pun bantuan buat kami," jelasnya.
Ia pun merasa rindu untuk pulang ke kampung halaman berjumpa dengan anak dan istri serta keluarga di kampung halaman. Namun bagaimana lagi, situasi yang tidak memungkinkan memkasan dirinya harus tetap bertahan di perantauan.
"Rindu, kangen banget mau pulang kampung, namun mau bagaimana lagi mudik sudah dilarang, terpaksa harus lebaran disini tanpa anak dan istri. Berat, rindu kasih sayang," curhat Nandar sambil menteskan air mata.
Ia berharap kondisi pandemi Covid-19 ini segera berakhir agar kehidupan dan perekonomian segera pulih kembali. "Ya, kami sih berharapnya situasi ini segera berakhir, agar kami bisa kembali tersenyum dan menafkahi anak istri di kampung halaman," tutup Nandar.