Big Data Bantu Tingkatkan Kualitas Wisman di Indonesia
INDUSTRY.co.id, Jakarta - Seiring perkembangan teknologi,sejak Oktober 2016, Indoensia sudah membuat suatu program, yaitu Big Data, merupakan program perhitungan wisatawan mancanegara (Wisman). Metode yang digunakanan berbasis penggunaan data selurer yang mampu dipercaya meningkatkan kualitas data pariwisata.
Direktur Statistik Keuangan, Teknologi Informasi dan Pariwisata Badan Pusat Statistik (BPS) Titi Kanti Lestari mengatakan, Dengan metode ini, bukan saja menyangkut jumlah wisman tapi berbagai 'behavior' mereka bisa diketahui dengan baik, Jakarta, Rabu (01/02/2017)
Big Data ini, mempunyai keunggulan untuk mengetahui serta memantau pola perilaku para wisman yang berkunjung seperti, lama tingganya di tempat destinasi wisata, pergerakan, hingga aktivitas termasuk jumlah belanja serta "costumer behavior" yang lain. Penggunaan Big Data ini tergolong cepat, berbiaya murah, dan memiliki akurasi yang tinggi.
Ia menambahkan, digitalisasi atau pemanfaatan data digital merupakan program BPS yang sudah dituangkan dalam rencana strategis (renstra) 2014 sampai 2018 dan bukan saja akan dilakukan untuk pariwisata tapi berbagai sektor lainnya.
"Kalau untuk kasus Indonesia ini solusi untuk menjangkau wilayah perbatasan," ujarnya.
Penghitungan wisman dengan menggunakan data seluler dianggap banyak manfaatnya di antaranya mampu menangkap pergerakan data selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu sedangkan, penggunaan metode lain yang selama ini digunakan yakni survei memiliki berbagai keterbatasan. Penggunaan data roaming seluler juga tidak memerlukan sampling terhadap populasi melainkan langsung sensus pada setiap orang yang masuk. Sementara, jika menggunakan survei, memerlukan jangka waktu relatif yang lebih lama.
Titi mengatakan meski bukan negara pertama yang menerapkan Big Data untuk penghitungan wisman namun Indonesia tergolong sebagai negara awal yang menerapkan pola tersebut.
"Sudah beberapa yang menerapkan ini seperti misalnya Estonia Spanyol, Belanda serta Oman, namun sebagian dari mereka masih terkendala dengan UU privasi yang lebih dulu ada di negara mereka. Indonesia memang generasi awal yang memakai perhitungan dengan pola seperti ini," lanjutnya.
Ada beberapa kelemahan dalam hal penggunaan data roaming untuk menghitung jumlah wisman yakni ketika wisman yang datang tidak mengaktifkan roaming selulernya sehingga ada kemungkinan wisman yang lolos hingga tidak terhitung dalam data.
Selain itu ada kemungkinan wisman yang menyeberang di perbatasan tidak semuanya membawa ponsel atau ketika ada kasus satu wisman mengaktifkan beberapa data roaming.
"Saya yakin bahwa penggunaan pola Big Data tetap akan mampu meningkatkan kualitas data pariwisata di Tanah Air" tutupnya, Titi anti Lestari. (Ant)