INDUSTRY.co.id - Pandeglang - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung kembali menarik perhatian investor internasional. Salah satunya adalah Andrew James, investor asal Australia yang mengembangkan konsep wisata berbasis budaya dan seni melalui proyek Kampung Joglo di kawasan wisata unggulan Banten tersebut.
Menariknya, keterlibatan Andrew di KEK Tanjung Lesung bermula bukan dari rencana bisnis besar, melainkan karena kecintaannya terhadap keindahan alam kawasan tersebut.
Andrew mengaku pertama kali datang ke Tanjung Lesung untuk menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan sahabatnya, Paula Panaitan, figur yang dikenal luas di kalangan peleselancar internasional.
"Saya langsung jatuh hati pada pemandangan ketika melihat kawasan KEK Tanjung Lesung. Saya kemudian membeli lahan seluas kurang lebih satu hektare dan terus mengembangkannya secara bertahap," ujar Andrew. Menurut Andrew, salah satu daya tarik utama KEK Tanjung Lesung adalah kombinasi antara keindahan pantai, suasana yang masih alami, serta potensi pengembangan wisata yang sangat besar. Alih-alih membangun hotel konvensional, Andrew memilih menghadirkan konsep yang berbeda. Ia mengumpulkan dan merestorasi bangunan Joglo tua dari Jepara dan Jawa Tengah untuk dijadikan bagian dari destinasi wisata bernuansa budaya. "Saya menemukan beberapa Joglo yang dibongkar di Jepara. Bangunannya sangat indah sehingga saya memutuskan membelinya. Awalnya tiga joglo, sekarang sudah menjadi tujuh," katanya. Ia menilai bangunan tradisional tersebut merupakan karya seni bernilai tinggi yang mencerminkan keahlian para pengrajin Indonesia yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kampung Joglo Jadi Destinasi Wisata Budaya Kampung Joglo yang dibangunnya tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi wisata, tetapi juga dirancang sebagai pusat kegiatan seni, budaya, dan kreativitas. Rumah-rumah Joglo yang berdiri di kawasan tersebut menghadirkan suasana pedesaan Jawa yang tenang, sekaligus menjadi ruang bagi seniman dan pelaku kreatif untuk berkarya.
Rumah tradisional Joglo sendiri memiliki nilai filosofi yang kuat. Berasal dari Jawa Tengah, Joglo merupakan salah satu bentuk arsitektur tradisional paling populer di Pulau Jawa.
Tanjung Lesung Dinilai Punya Potensi Lebih dari Sekedar Wisata Pantai Berbekal pengalaman mengembangkan berbagai proyek internasional, Andrew melihat bahwa keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam atau hotel yang mewah. Ia mencontohkan kawasan Nusa Dua di Bali yang berkembang pesat karena memiliki beragam aktivitas yang membuat wisatawan betah lebih lama. Karena itu, proyek yang dikembangkannya di KEK Tanjung Lesung dirancang sebagai venue multifungsi yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari acara komunitas, pesta privat, presentasi perusahaan, pertunjukan musik, hingga peragaan busana. "Jika wisatawan keluar dari hotel, mereka harus punya alasan untuk tetap tinggal dan menikmati kawasan tersebut," ujarnya. Dalam waktu dekat, Andrew bahkan mengungkapkan bahwa sebuah kru film dari Prancis dijadwalkan datang pada Juli mendatang untuk melakukan produksi film dengan latar kawasan hutan di sekitar KEK Tanjung Lesung.
“Bagi saya, KEK Tanjung Lesung bisa menjadi gerbang menuju pengalaman alam dan hutan. Tempat ini memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi wisatawan maupun industri kreatif,” jelasnya.
Dilengkapi Studi Musik Premium Selain membangun area berkumpul dan pusat aktivitas pengunjung, Andrew juga tengah menyelesaikan pembangunan studio musik premium di kawasan Kampung Joglo.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menarik musisi, kreator konten, hingga produser untuk menciptakan dan memproduksi karya di tengah suasana alam Tanjung Lesung yang tenang. Dengan konsep yang memadukan budaya, seni, kreativitas, dan pariwisata, Kampung Joglo menjadi salah satu daya tarik baru yang memperkaya pilihan wisata di KEK Tanjung Lesung.