Metode Cuci Otak Dilakukan dr Terawan AgusTidak Termasuk Pengobatan Standar

Oleh : Herry Barus | Jumat, 06 April 2018 - 06:40 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Surabaya- Dokter spesialis saraf Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya dr Yudhi Adrianto menyebutkan metode cuci otak yang dilakukan dr Terawan Agus Putranto tidak termasuk dalam pengobatan standar pasien stroke seperti standar "guideline" dunia.

Yudhi saat dikonfirmasi awak  media di Surabaya, Kamis (5/4/2018)  mengatakan, terapi cuci otak memang telah lama digaungkan sehingga menjadi polemik dan tindakan tersebut oleh sebagian dokter radiologi intervensi diklaim sebagai terapiotik terutama oleh dr Terawan.

"Dari disiplin ilmu lain, yakni neurologi, tindakan itu sebagai diagnostik. Yang sifatnya untuk mengetahui kelainan pembuluh darah otak. Menurut dokter Terawan itu memiliki makna terapiotik," ujarnya.

Ditanya terkait rekomendasi pemecatan dr Terawan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menurut dia, vonis itu tentu sudah melalui kajian yang mendalam melalui pakar-pakar sehingga yang bersangkutan dinilai melanggar etik.

Tapi lepas dari itu, kata Yudhi, dokter dalam melakukan pengobatan harus ada patokan ilmiah. Ada yang sifatnya "Evidence-based Medicine" (EBM), jadi bukan testimonial.

"Sebelum dilakukan pada manusia terlebih dahulu ada penelitian. Ada fase 1, 2 sampai 4. Sehingga untuk manusia bukan hanya manfaat, bahaya dan potensi komplikasinya, tapi apakah manfaat sudah terukur dengan baik sehingga pada manusia aman," tuturnya.

Dokter spesialis saraf selalu berpatokan pada "guideline" dunia yaitu "guideline" AHA-ASA (American Heart Association/American Stroke Association) yang diadopsi oleh Perdossi (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia).

"Selama ini terapi cuci otak tidak pernah ada. Jadi misal di Jerman ada, tentu di 'guideline' stroke juga ada," katanya.

Yudhi menambahkan, pihaknya selama ini selalu menggunakan metode DSA (Digital Substracion Angiography) yang merupakan tindakan diagnostik menggunakan Kontras dan Heparin untuk mencegah bekuan darah.

Tujuan DSA untuk mendiagnostik dan untuk mengevaluasi pembuluh darah otak sehingga bisa diketahui penyakit dari pasien dan menentukan pengobatan yang tepat.

Adapun cara kerja DSA, yaitu dengan memasukan kateter yang berukuran kecil dan panjangnya satu meter ke dalam pembuluh darah dari paha hingga menuju bagian kepala, yaitu otak.

Kemudian melalui komputer khusus akan terlihat bagian-bagian pembuluh yang mengalami penyempitan dan hal tersebut dimaksudkan untuk diagostik pasien.

"Menurut neuro intervensi yang kita jalani saat ini, DSA adalah prosedur diagnostik yang ditengarai sebagai 'brain wash' dan itu diklaim sebagai terapiotik yang memiliki efek pengobatan," tuturnya.

Sebelumnya, dokter RSPAD Gatot Subroto Jakarta, dr Terawan Agus Putranto direkomendasikan diberhentikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Hal itu menimbulkan pro-kontra di masyarakat.

Herry Barus Lihat semua artikel →